sejarah Wali songo

Walisongo Masjid Agung Demak , diyakini sebagai salah satu tempat berkumpulnya para wali yang paling awal. Walisongo Periode Pertama Pada waktu Mehmed I Celeby memerintah kerajaan Turki,
beliau menanyakan
perkembangan agama Islam
kepada para pedagang dari
Gujarat. Dari mereka Sultan
mendapat kabar berita bahwa di Pulau Jawa ada dua kerajaan
Hindu yaitu Majapahit dan Pajajaran. Di antara rakyatnya ada yang beragama Islam tapi
hanya terbatas pada keluarga
pedagang Gujarat yang kawin
dengan para penduduk pribumi
yaitu di kota-kota pelabuhan. Sang Sultan kemudian mengirim
surat kepada pembesar Islam di Afrika Utara dan Timur Tengah. Isinya meminta para ulama yang
mempunyai karomah untuk
dikirim ke pulau Jawa. Maka
terkumpullah sembilan ulama
berilmu tinggi serta memiliki
karomah. Menurut buku Haul Sunan Ampel Ke-555 yang ditulis oleh KH. Mohammad Dahlan,[1] majelis dakwah yang secara
umum dinamakan Walisongo,
sebenarnya terdiri dari beberapa
angkatan. Para Walisongo tidak
hidup pada saat yang persis
bersamaan, namun satu sama lain mempunyai keterkaitan erat,
baik dalam ikatan darah atau
karena pernikahan, maupun
dalam hubungan guru-murid. Bila
ada seorang anggota majelis
yang wafat, maka posisinya digantikan oleh tokoh lainnya.
Pada tahun 808 Hijrah atau 1404
Masehi para ulama itu berangkat
ke Pulau Jawa. Mereka adalah: 1. Maulana Malik Ibrahim atau Sunan Gresik, berasal dari Turki ahli mengatur negara.
Berdakwah di Jawa bagian
timur. Wafat di Gresik pada
tahun 1419 M. Makamnya
terletak satu kilometer dari
sebelah utara pabrik Semen Gresik.
2. Maulana Ishaq berasal dari Samarkand dekat Bukhara- uzbekistan /Rusia. Beliau ahli pengobatan. Setelah tugasnya di
Jawa selesai Maulana Ishak
pindah ke Samudra Pasai dan
wafat di sana.
3. Syekh Jumadil Qubro , berasal dari Mesir. Beliau berdakwah keliling. Makamnya di Troloyo
Trowulan, Mojokerto Jawa
Timur.
4. Maulana Muhammad Al Maghrobi, berasal dari Maroko, beliau berdakwah keliling. Wafat
tahun 1465 M. Makamnya di
Jatinom Klaten, Jawa Tengah.
5. Maulana Malik Isroil berasal dari Turki, ahli mengatur negara. Wafat tahun 1435 M. Makamnya
di Gunung Santri.
6. Maulana Muhammad Ali Akbar, berasal dari Persia Iran. Ahli pengobatan. Wafat 1435 M.
Makamnya di Gunung Santri.
7. Maulana Hasanuddin berasal dari Palestina Berdakwah keliling. Wafat pada tahun 1462 M.
Makamnya disamping masjid
Banten Lama.
8. Maulana Alayuddin berasal dari Palestina. Berdakwah keliling. Wafat pada tahun 1462
M. Makamnya disamping masjid
Banten Lama.
9. Syekh Subakir, berasal dari Persia, ahli menumbali (metode
rukyah) tanah angker yang
dihuni jin-jin jahat tukang
menyesatkan manusia. Setelah
para Jin tadi menyingkir dan lalu
tanah yang telah netral dijadikan pesantren. Setelah banyak
tempat yang ditumbali (dengan
Rajah Asma Suci) maka Syekh
Subakir kembali ke Persia pada
tahun 1462 M dan wafat di sana.
Salah seorang pengikut atau sahabat Syekh Subakir tersebut
ada di sebelah utara Pemandian
Blitar, Jawa Timur. Disana ada
peninggalan Syekh Subakir
berupa sajadah yang terbuat dari
batu kuno. ↑Kembali Ke Bagian Sebelumnya Walisongo Periode Kedua Pada periode kedua ini masuklah
tiga orang wali menggantikan
tiga wali yang wafat. Ketiganya
adalah: 1. Raden Ahmad Ali Rahmatullah, datang ke Jawa
pada tahun 1421 M menggantikan
Malik Ibrahim yang wafat pada
tahun 1419 M. Raden Rahmat atau Sunan Ampel berasal dari Champa, Muangthai Selatan
(Thailand Selatan).
2. Sayyid Ja’far Shodiq berasal dari Palestina, datang di Jawa
tahun 1436 menggantikan Malik
Isro’il yang wafat pada tahun
1435 M. Beliau tinggal di Kudus
sehingga dikenal dengan Sunan Kudus. 3. Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati, berasal dari Palestina. Datang di Jawa pada
tahun 1436 M. Menggantikan
Maulana Ali Akbar yang wafat
tahun 1435 M. Sidang walisongo
yang kedua ini diadakan di
Ampel Surabaya. Para wali kemudian membagi
tugas. Sunan Ampel, Maulana
Ishaq dan Maulana Jumadil Kubro
bertugas di Jawa Timur. Sunan
Kudus, Syekh Subakir dan
Maulana Al-Maghrobi bertugas di Jawa Tengah. Syarif Hidayatullah,
Maulana Hasanuddin dan Maulana
Aliyuddin di Jawa Barat. Dengan
adanya pembagian tugas ini
maka masing-masing wali telah
mempunyai wilayah dakwah sendiri-sendiri, mereka bertugas
sesuai keahlian masing-masing. ↑Kembali Ke Bagian Sebelumnya Walisongo Periode Ketiga Pada tahun 1463 M. Masuklah
menjadi anggota Walisongo
yaitu: 1. Sunan Giri kelahiran Blambangan Jawa Timur. Putra
dari Syekh Maulana Ishak dengan
putri Kerajaan Blambangan
bernama Dewi Sekardadu atau
Dewi Kasiyan. Raden Paku ini
menggantikan kedudukan ayahnya yang telah pindah ke
negeri Pasai. Karena Raden Paku
tinggal di Giri maka beliau lebih
terkenal dengan sebutan Sunan
Giri. Makamnya terletak di Gresik
Jawa Timur. 2. Raden Said, atau Sunan Kalijaga , kelahiran Tuban Jawa Timur. Beliau adalah putra
Adipati Wilatikta yang
berkedudukan di Tuban. Sunan
Kalijaga menggantikan Syekh
Subakir yang kembali ke Persia.
3. Raden Makdum Ibrahim, atau Sunan Bonang, lahir di Ampel Surabaya. Beliau adalah putra
Sunan Ampel, Sunan Bonang
menggantikan kedudukan Maulana Hasanuddin yang wafat pada tahun 1462. Sidang
Walisongo yang ketiga ini juga
berlangsung di Ampel Surabaya. ↑Kembali Ke Bagian Sebelumnya Walisongo Periode Keempat Pada tahun 1466 diangkat dua
wali menggantikan dua yang
telah wafat yaitu Maulana
Ahmad Jumadil Kubro dan
Maulana Muhammad Maghrobi.
Dua wali yang menggantikannya ialah: Raden Patah adalah murid Sunan Ampel, beliau adalah putra Raja
Brawijaya Majapahit. Beliau
diangkat sebagai Adipati Bintoro
pada tahun 1462 M. Kemudian
membangun Masjid Demak pada
tahun 1465 dan dinobatkan sebagai Raja atau Sultan Demak
pada tahun 1468.Setelah itu
Fathullah Khan, putra Sunan
Gunungjati, beliau dipilih sebagai
anggota Walisongo
menggantikan ayahnya yang telah berusia lanjut. ↑Kembali Ke Bagian Sebelumnya Walisongo Periode Kelima Dapat disimpulkan bahwa dalam
periode ini masuk Sunan Muria atau Raden Umar Said-putra
Sunan Kalijaga menggantikan
wali yang wafat. Konon Syekh Siti Jenar atau Syekh Lemah Abang itu adalah
salah satu anggota Walisongo,
namun karena Siti Jenar di
kemudian hari mengajarkan
ajaran yang menimbulkan
keresahan umat dan mengabaikan syariat agama
maka Siti Jenar dihukum mati.
Selanjutnya kedudukan Siti Jenar
digantikan oleh Sunan Bayat –
bekas Adipati Semarang (Ki
Pandanarang) yang telah menjadi murid Sunan Kalijaga. Walisongo atau Walisanga dikenal sebagai penyebar agama Islam di tanah Jawa pada abad ke 14. Mereka tinggal di tiga wilayah
penting pantai utara Pulau Jawa,
yaitu Surabaya-Gresik-Lamongan
di Jawa Timur, Demak-Kudus-
Muria di Jawa Tengah, dan
Cirebon di Jawa Barat. Era Walisongo adalah era
berakhirnya dominasi Hindu- Budha dalam budaya Nusantara untuk digantikan dengan
kebudayaan Islam. Mereka adalah simbol penyebaran Islam
di Indonesia, khususnya di Jawa.
Tentu banyak tokoh lain yang
juga berperan. Namun peranan
mereka yang sangat besar dalam
mendirikan Kerajaan Islam di Jawa, juga pengaruhnya
terhadap kebudayaan
masyarakat secara luas serta
dakwah secara langsung,
membuat para Walisongo ini
lebih banyak disebut dibanding yang lain. ↑Kembali Ke Bagian Sebelumnya Arti Walisongo Ada beberapa pendapat
mengenai arti Walisongo.
Pertama adalah wali yang
sembilan, yang menandakan
jumlah wali yang ada sembilan,
atau sanga dalam bahasa Jawa . Pendapat lain menyebutkan
bahwa kata songo/sanga berasal
dari kata tsana yang dalam bahasa Arab berarti mulia. Pendapat lainnya lagi menyebut
kata sana berasal dari bahasa Jawa , yang berarti tempat. Pendapat lain yang mengatakan
bahwa Walisongo adalah sebuah
majelis dakwah yang pertama kali didirikan oleh Sunan Gresik (Maulana Malik Ibrahim) pada tahun 1404 Masehi (808 Hijriah). [1] Saat itu, majelis dakwah
Walisongo beranggotakan
Maulana Malik Ibrahim sendiri, Maulana Ishaq (Sunan Wali Lanang), Maulana Ahmad Jumadil
Kubro (Sunan Kubrawi); Maulana
Muhammad Al-Maghrabi (Sunan
Maghribi); Maulana Malik Isra’il
(dari Champa), Maulana
Muhammad Ali Akbar, Maulana Hasanuddin, Maulana ‘Aliyuddin,
dan Syekh Subakir. Dari nama para Walisongo
tersebut, pada umumnya
terdapat sembilan nama yang
dikenal sebagai anggota
Walisongo yang paling terkenal,
yaitu: Sunan Gresik atau
Maulana
Malik
Ibrahim Sunan Ampel atau
Raden
Rahmat Sunan Sunan Drajat atau
Raden
Qasim Sunan Kudus atau
Ja’far
Shadiq Sunan Giri atau Sunan Kalijaga atau Raden
Said Sunan Muria atau Raden Uma
Said Sunan Gunung
Jati atau Syarif Para Walisongo adalah intelektual
yang menjadi pembaharu
masyarakat pada masanya.
Pengaruh mereka terasakan
dalam beragam bentuk
manifestasi peradaban baru masyarakat Jawa, mulai dari kesehatan , bercocok-tanam, perniagaan, kebudayaan , kesenian, kemasyarakatan, hingga ke pemerintahan. Sunan Gresik (Maulana Malik
Ibrahim) Artikel utama untuk bagian ini adalah: Sunan Gresik Makam Maulana Malik Ibrahim, desa Gapura, Gresik, Jawa Timur Maulana Malik Ibrahim adalah keturunan ke-22 dari Nabi Muhammad. Ia disebut juga Sunan Gresik, atau Sunan
Tandhes, atau Mursyid Akbar
Thariqat Wali Songo . Nasab As-
Sayyid Maulana Malik Ibrahim
Nasab Maulana Malik Ibrahim
menurut catatan Dari As-Sayyid Bahruddin Ba’alawi Al-Husaini
yang kumpulan catatannya
kemudian dibukukan dalam
Ensiklopedi Nasab Ahlul Bait
yang terdiri dari beberapa
volume (jilid). Dalam Catatan itu tertulis: As-Sayyid Maulana Malik
Ibrahim bin As-Sayyid Barakat
Zainal Alam bin As-Sayyid Husain
Jamaluddin bin As-Sayyid
Ahmad Jalaluddin bin As-Sayyid
Abdullah bin As-Sayyid Abdul Malik Azmatkhan bin As-Sayyid
Alwi Ammil Faqih bin As-Sayyid
Muhammad Shahib Mirbath bin
As-Sayyid Ali Khali’ Qasam bin
As-Sayyid Alwi bin As-Sayyid
Muhammad bin As-Sayyid Alwi bin As-Sayyid Ubaidillah bin Al-
Imam Ahmad Al-Muhajir bin Al-
Imam Isa bin Al-Imam
Muhammad bin Al-Imam Ali Al-
Uraidhi bin Al-Imam Ja’far Shadiq
bin Al-Imam Muhammad Al- Baqir bin Al-Imam Ali Zainal
Abidin bin Al-Imam Al-Husain
bin Sayyidah Fathimah Az-Zahra/
Ali bin Abi Thalib, binti Nabi
Muhammad Rasulullah Ia diperkirakan lahir di Samarkand di Asia Tengah, pada paruh awal abad ke-14. Babad Tanah Jawi versi Meinsma menyebutnya Asmarakandi,
mengikuti pengucapan lidah
orang Jawa terhadap As- Samarqandy. [2] Dalam cerita rakyat, ada yang memanggilnya
Kakek Bantal. Isteri Maulana Malik Ibrahim Maulana Malik Ibrahim memiliki,
3 isteri bernama: 1. Siti Fathimah
binti Ali Nurul Alam Maulana
Israil (Raja Champa Dinasti
Azmatkhan 1), memiliki 2 anak,
bernama: Maulana Moqfaroh dan Syarifah Sarah 2. Siti Maryam
binti Syaikh Subakir, memiliki 4
anak, yaitu: Abdullah, Ibrahim,
Abdul Ghafur, dan Ahmad 3. Wan
Jamilah binti Ibrahim Zainuddin
Al-Akbar Asmaraqandi, memiliki 2 anak yaitu: Abbas dan Yusuf.
Selanjutnya Sharifah Sarah binti
Maulana Malik Ibrahim
dinikahkan dengan Sayyid Fadhal
Ali Murtadha [Sunan Santri/
Raden Santri] dan melahirkan dua putera yaitu Haji Utsman (Sunan
Manyuran) dan Utsman Haji
(Sunan Ngudung). Selanjutnya
Sayyid Utsman Haji (Sunan
Ngudung) berputera Sayyid
Ja’far Shadiq [Sunan Kudus]. Maulana Malik Ibrahim umumnya
dianggap sebagai wali pertama
yang mendakwahkan Islam di
Jawa. Ia mengajarkan cara-cara
baru bercocok tanam dan banyak
merangkul rakyat kebanyakan, yaitu golongan masyarakat Jawa
yang tersisihkan akhir
kekuasaan Majapahit. Malik
Ibrahim berusaha menarik hati
masyarakat, yang tengah dilanda
krisis ekonomi dan perang saudara. Ia membangun
pondokan tempat belajar agama
di Leran, Gresik. Pada tahun 1419,
Malik Ibrahim wafat. Makamnya
terdapat di desa Gapura Wetan, Gresik, Jawa Timur . Sunan Ampel (Raden
Rahmat) Artikel utama untuk bagian ini adalah: Sunan Ampel Sunan Ampel bernama asli Raden Rahmat, keturunan ke-22 dari Nabi Muhammad, menurut riwayat ia adalah putra Ibrahim
Zainuddin Al-Akbar dan seorang
putri Champa yang bernama Dewi Condro Wulan binti Raja
Champa Terakhir Dari Dinasti
Ming. Nasab lengkapnya sebagai
berikut: Sunan Ampel bin Sayyid
Ibrahim Zainuddin Al-Akbar bin
Sayyid Jamaluddin Al-Husain bin Sayyid Ahmad Jalaluddin bin
Sayyid Abdullah bin Sayyid
Abdul Malik Azmatkhan bin
Sayyid Alwi Ammil Faqih bin
Sayyid Muhammad Shahib
Mirbath bin Sayyid Ali Khali’ Qasam bin Sayyid Alwi bin
Sayyid Muhammad bin Sayyid
Alwi bin Sayyid Ubaidillah bin
Sayyid Ahmad Al-Muhajir bin
Sayyid Isa bin Sayyid
Muhammad bin Sayyid Ali Al- Uraidhi bin Imam Ja’far Shadiq
bin Imam Muhammad Al-Baqir
bin Imam Ali Zainal Abidin bin
Imam Al-Husain bin Sayyidah
Fathimah Az-Zahra binti Nabi
Muhammad Rasulullah. Sunan Ampel umumnya dianggap
sebagai sesepuh oleh para wali
lainnya. Pesantrennya bertempat
di Ampel Denta, Surabaya , dan merupakan salah satu pusat
penyebaran agama Islam tertua
di Jawa. Ia menikah dengan Dewi
Condrowati yang bergelar Nyai
Ageng Manila, putri adipati Tuban
bernama Arya Teja dan menikah juga dengan Dewi Karimah binti
Ki Kembang Kuning. Pernikahan
Sunan Ampel dengan Dewi
Condrowati alias Nyai Ageng
Manila binti Aryo Tejo, berputera:
Sunan Bonang,Siti Syari’ah,Sunan Derajat,Sunan Sedayu,Siti
Muthmainnah dan Siti Hafsah.
Pernikahan Sunan Ampel dengan
Dewi Karimah binti Ki Kembang
Kuning, berputera: Dewi
Murtasiyah,Asyiqah,Raden Husamuddin (Sunan
Lamongan,Raden Zainal Abidin
(Sunan Demak),Pangeran
Tumapel dan Raden Faqih (Sunan
Ampel 2. Makam Sunan Ampel
teletak di dekat Masjid Ampel , Surabaya. Sunan Bonang (Makhdum
Ibrahim) Artikel utama untuk bagian ini adalah: Sunan Bonang Bonang, sederetan gong kecil diletakkan horisontal. Sunan Bonang adalah putra Sunan Ampel, dan merupakan
keturunan ke-23 dari Nabi Muhammad. Ia adalah putra Sunan Ampel dengan Nyai Ageng
Manila, putri adipati Tuban
bernama Arya Teja. Sunan
Bonang banyak berdakwah
melalui kesenian untuk menarik
penduduk Jawa agar memeluk agama Islam. Ia dikatakan
sebagai penggubah suluk Wijil
dan tembang Tombo Ati, yang
masih sering dinyanyikan orang.
Pembaharuannya pada gamelan Jawa ialah dengan memasukkan rebab dan bonang, yang sering dihubungkan dengan namanya. Universitas Leiden menyimpan sebuah karya sastra bahasa Jawa
bernama Het Boek van Bonang
atau Buku Bonang. Menurut
G.W.J. Drewes, itu bukan karya
Sunan Bonang namun mungkin
saja mengandung ajarannya. Sunan Bonang diperkirakan
wafat pada tahun 1525. Sunan Drajat Artikel utama untuk bagian ini adalah: Sunan Drajat Sunan Drajat adalah putra Sunan Ampel, dan merupakan
keturunan ke-23 dari Nabi Muhammad. Ia adalah putra Sunan Ampel dengan Nyai Ageng
Manila, putri adipati Tuban
bernama Arya Teja. Sunan Drajat
banyak berdakwah kepada
masyarakat kebanyakan. Ia
menekankan kedermawanan, kerja keras, dan peningkatan
kemakmuran masyarakat,
sebagai pengamalan dari agama
Islam. Pesantren Sunan Drajat
dijalankan secara mandiri sebagai
wilayah perdikan, bertempat di Desa Drajat, Kecamatan Paciran, Lamongan. Tembang macapat Pangkur disebutkan sebagai
ciptaannya. Gamelan
Singomengkok peninggalannya
terdapat di Musium Daerah Sunan
Drajat, Lamongan. Sunan Drajat
diperkirakan wafat wafat pada 1522. Sunan Kudus Artikel utama untuk bagian ini adalah: Sunan Kudus Sunan Kudus adalah putra Sunan Ngudung atau Raden Usman Haji, dengan Syarifah Ruhil atau Dewi
Ruhil yang bergelar Nyai Anom
Manyuran binti Nyai Ageng
Melaka binti Sunan Ampel. Sunan Kudus adalah keturunan ke-24 dari Nabi Muhammad. Sunan Kudus bin Sunan Ngudung bin
Fadhal Ali Murtadha bin Ibrahim
Zainuddin Al-Akbar bin
Jamaluddin Al-Husain bin Ahmad
Jalaluddin bin Abdillah bin Abdul
Malik Azmatkhan bin Alwi Ammil Faqih bin Muhammad
Shahib Mirbath bin Ali Khali’
Qasam bin Alwi bin Muhammad
bin Alwi bin Ubaidillah bin
Ahmad Al-Muhajir bin Isa bin
Muhammad bin Ali Al-Uraidhi bin Ja’far Shadiq bin Muhammad Al-
Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Al-
Husain bin Sayyidah Fathimah
Az-Zahra binti Nabi Muhammad
Rasulullah. Sebagai seorang wali,
Sunan Kudus memiliki peran yang besar dalam pemerintahan Kesultanan Demak , yaitu sebagai panglima perang, penasehat
Sultan Demak, Mursyid Thariqah
dan hakim peradilan negara. Ia
banyak berdakwah di kalangan
kaum penguasa dan priyayi
Jawa. Di antara yang pernah menjadi muridnya, ialah Sunan Prawoto penguasa Demak, dan Arya Penangsang adipati Jipang Panolan. Salah satu
peninggalannya yang terkenal
ialah Mesjid Menara Kudus, yang
arsitekturnya bergaya campuran
Hindu dan Islam. Sunan Kudus
diperkirakan wafat pada tahun 1550. Sunan Giri Artikel utama untuk bagian ini adalah: Sunan Giri Sunan Giri adalah putra Maulana Ishaq. Sunan Giri adalah keturunan ke-23 dari Nabi Muhammad, merupakan murid dari Sunan Ampel dan saudara
seperguruan dari Sunan Bonang.
Ia mendirikan pemerintahan
mandiri di Giri Kedaton , Gresik; yang selanjutnya berperan
sebagai pusat dakwah Islam di
wilayah Jawa dan Indonesia
timur, bahkan sampai ke
kepulauan Maluku. Salah satu
keturunannya yang terkenal ialah Sunan Giri Prapen, yang
menyebarkan agama Islam ke
wilayah Lombok dan Bima. Sunan Kalijaga Artikel utama untuk bagian ini adalah: Sunan Kalijaga Lukisan Sunan Kalijaga Sunan Kalijaga adalah putra adipati Tuban yang bernama
Tumenggung Wilatikta atau
Raden Sahur atau Sayyid Ahmad
bin Mansur (Syekh Subakir). Ia
adalah murid Sunan Bonang.
Sunan Kalijaga menggunakan kesenian dan kebudayaan
sebagai sarana untuk
berdakwah, antara lain kesenian wayang kulit dan tembang suluk. Tembang suluk Ilir-Ilir dan Gundul-Gundul Pacul umumnya
dianggap sebagai hasil karyanya.
Dalam satu riwayat, Sunan
Kalijaga disebutkan menikah
dengan Dewi Saroh binti Maulana Ishaq, menikahi juga Syarifah Zainab binti Syekh Siti Jenar dan
Ratu Kano Kediri binti Raja
Kediri. Sunan Muria (Raden Umar
Said) Artikel utama untuk bagian ini adalah: Sunan Muria Sunan Muria atau Raden Umar Said adalah putra Sunan Kalijaga.
Ia adalah putra dari Sunan
Kalijaga dari isterinya yang
bernama Dewi Sarah binti
Maulana Ishaq. Sunan Muria
menikah dengan Dewi Sujinah, putri Sunan Ngudung. Jadi Sunan
Muria adalah adik ipar dari Sunan
Kudus. Sunan Gunung Jati (Syarif
Hidayatullah) Artikel utama untuk bagian ini adalah: Sunan Gunung Jati Lukisan Sunan Gunung Jati Gapura Makam Sunan Gunung Jati di Cirebon, Jawa Barat Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah adalah putra Syarif
Abdullah Umdatuddin putra Ali
Nurul Alam putra Syekh Husain
Jamaluddin Akbar. Dari pihak
ibu, ia masih keturunan keraton Pajajaran melalui Nyai Rara Santang, yaitu anak dari Sri Baduga Maharaja. Sunan Gunung Jati mengembangkan Cirebon
sebagai pusat dakwah dan
pemerintahannya, yang
sesudahnya kemudian menjadi Kesultanan Cirebon . Anaknya yang bernama Maulana Hasanuddin, juga berhasil mengembangkan kekuasaan dan
menyebarkan agama Islam di
Banten, sehingga kemudian
menjadi cikal-bakal berdirinya Kesultanan Banten . ↑Kembali Ke Bagian Sebelumnya Tokoh pendahulu Walisongo Syekh Jumadil Qubro Artikel utama untuk bagian ini adalah: Syekh Jumadil Qubro Syekh Jumadil Qubro adalah Maulana Ahmad Jumadil Kubra
bin Husain Jamaluddin bin Ahmad
Jalaluddin bin Abdillah bin Abdul
Malik Azmatkhan bin Alwi
Ammil Faqih bin Muhammad
Shahib Mirbath bin Ali Khali’ Qasam bin Alwi bin Muhammad
bin Alwi bin Ubaidillah bin
Ahmad Al-Muhajir bin Isa bin
Muhammad bin Ali Al-Uraidhi bin
Ja’far Shadiq bin Muhammad Al-
Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Al- Husain bin Sayyidah Fathimah
Az-Zahra binti Nabi Muhammad
Rasulullah Syekh Jumadil Qubro adalah putra Husain Jamaluddin
dari isterinya yang bernama
Puteri Selindung Bulan (Putri
Saadong II/ Putri Kelantan Tua).
Tokoh ini sering disebutkan
dalam berbagai babad dan cerita rakyat sebagai salah seorang
pelopor penyebaran Islam di
tanah Jawa. Makamnya terdapat di beberapa
tempat yaitu di Semarang,
Trowulan, atau di desa Turgo
(dekat Pelawangan),
Yogyakarta. Belum diketahui
yang mana yang betul-betul merupakan kuburnya. [3][4] ↑Kembali Ke Bagian Sebelumnya Teori keturunan Hadramaut Walaupun masih ada pendapat
yang menyebut Walisongo
adalah keturunan Samarkand
(Asia Tengah), Champa atau
tempat lainnya, namun
tampaknya tempat-tampat tersebut lebih merupakan jalur
penyebaran para mubaligh
daripada merupakan asal-muasal
mereka yang sebagian besar
adalah kaum Sayyid atau Syarif . Beberapa argumentasi yang
diberikan oleh Muhammad Al
Baqir, dalam bukunya Thariqah
Menuju Kebahagiaan,
mendukung bahwa Walisongo
adalah keturunan Hadramaut (Yaman):

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s