Taman Sari Gua Sunyaragi cirebon

Taman Sari Gua Sunyaragi Gua Sunyaragi adalah sebuah gua yang berlokasi di kelurahan
Sunyaragi, Kesambi, Kota Cirebon dimana terdapat bangunan mirip candi yang disebut Gua Sunyaragi, atau Taman Air
Sunyaragi, atau sering disebut
sebgaai Tamansari Sunyaragi.
Nama “Sunyaragi” berasal dari
kata “sunya” yang artinya adalah
sepi dan “ragi” yang berarti raga, keduanya adalah bahasa Sanskerta . Tujuan utama didirikannya gua tersebut adalah
sebagai tempat beristirahat dan meditasi para Sultan Cirebon dan keluarganya. Lokasi Gua Sunyaragi merupakan salah
satu benda cagar budaya yang berada di Kota Cirebon dengan
luas sekitar 15 hektar. Objek
cagar budaya ini berada di sisi
jalan by pass Brigjen Dharsono,
Cirebon. Konstruksi dan
komposisi bangunan situs ini merupakan sebuah taman air.
Karena itu Gua Sunyaragi disebut
taman air gua Sunyaragi. Pada
zaman dahulu kompleks gua
tersebut dikelilingi oleh danau
yaitu Danau Jati. Lokasi dimana dulu terdapat Danau Jati saat ini
sudah mengering dan dilalui jalan
by pass Brigjen Dharsono, sungai
Situngkul, lokasi Pembangkit
Listrik Tenaga Gas, Sunyaragi
milik PLN, persawahan dan menjadi pemukiman penduduk. Selain itu di gua tersebut banyak
terdapat air terjun buatan
sebagai penghias, dan hiasan
taman seperti Gajah, patung wanita Perawan Sunti, dan
Patung Garuda. Gua Sunyaragi merupakan salah satu bagian dari
keraton Pakungwati sekarang
bernama keraton Kasepuhan . Lukisan yang menggambarkan gua Sunyaragi. ↑Kembali Ke Bagian Sebelumnya Kompleks Kompleks tamansari Sunyaragi
ini terbagi menjadi dua bagian
yaitu pesanggrahan dan bangunan gua. Bagian
pesanggrahan dilengkapi dengan
serambi, ruang tidur, kamar
mandi, kamar rias, ruang ibadah
dan dikelilingi oleh taman
lengkap dengan kolam. Bangunan gua-gua berbentuk
gunung-gunungan, dilengkapi
terowongan penghubung bawah
tanah dan saluran air. Bagian luar
kompleks aku bermotif batu karang dan awan . Pintu gerbang luar berbentuk candi bentar dan pintu dalamnya berbentuk paduraksa. Induk seluruh gua bernama Gua
Peteng (Gua Gelap) yang
digunakan untuk bersemadi.
Selain itu ada Gua Pande Kemasan
yang khusus digunakan untuk
bengkel kerja pembuatan senjata sekaligus tempat
penyimpanannya. Perbekalan
dan makanan prajurit disimpan di
Gua Pawon. Gua Pengawal yang
berada di bagian bawah untuk
tempat berjaga para pengawal. Saat Sultan menerima bawahan
untuk bermufakat, digunakan
Bangsal Jinem, akan tetapi kala
Sultan beristirahat di Mande
Beling. Sedang Gua Padang Ati
(Hati Terang), khusus tempat bertapa para Sultan. ↑Kembali Ke Bagian Sebelumnya Fungsi setiap bagian gua Denah Gua Sunyaragi Walaupun berubah-ubah
fungsinya menurut kehendak
penguasa pada zamannya, secara
garis besar Tamansari Sunyaragi
adalah taman tempat para
pembesar keraton dan prajurit keraton bertapa untuk
meningkatkan ilmu kanuragan.
Bagian-bagiannya terdiri dari 12
antara lain (lihat denah): Bangsal jinem sebagai tempat sultan memberi wejangan
sekaligus melihat prajurit
berlatih. Gua pengawal sebagai tempat berkumpul par apengawal sultan. Kompleks Mande Kemasan (sebagian hancur). Gua pandekemasang sebagai tempat membuat senjata tajam. Gua simanyang sebagai tempat pos penjagaan. Gua langse sebagai tempat bersantai. Gua peteng sebagai tempat nyepi untuk kekebalan tubuh. Gua arga jumud sebagai tempat orang penting keraton. Gua padang ati sebagai tempat bersemedi. Gua kelanggengan sebagai tempat bersemedi agar langgeng
jabatan. Gua lawa sebagai tempat khusus kelelawar. Gua pawon sebagai dapur penyimpanan makanan. ↑Kembali Ke Bagian Sebelumnya Sejarah pembangunan gua
Sunyaragi Sejarah berdirinya gua Sunyaragi
memiliki dua buah versi, yang
pertama adalah berita lisan tentang sejarah berdirinya Gua
Sunyaragi yang disampaikan
secara turun-temurun oleh para
bangsawan Cirebon atau
keturunan keraton. Versi
tersebut lebih dikenal dengan sebutan versi Carub Kanda. Versi
yang kedua adalah versi Caruban
Nagari yaitu berdasarkan buku
Purwaka Caruban Nagari tulisan
tangan Pangeran Kararangen atau
Pangeran Arya Carbon tahun 1720. Sejarah berdirinya gua Sunyaragi versi Caruban Nagari
adalah yang digunakan sebagai
acuan para pemandu wisata gua
Sunyaragi. Menurut versi ini, Gua
Sunyaragi didirikan tahun 1703 Masehi oleh Pangeran Kararangen, cicit Sunan Gunung Jati. Kompleks Sunyaragi lalu
beberapa kali mengalami
perombakan dan perbaikan. Menurut Caruban Kandha dan
beberapa catatan dari Keraton
Kasepuhan, Tamansari dibangun
karena Pesanggrahan Giri Nur
Sapta Rengga berubah fungsi
menjadi tempat pemakaman raja-raja Cirebon, yang sekarang
dikenal sebagai Astana Gunung
Jati. Hal itu dihubungkan dengan
perluasan Keraton Pakungwati
(sekarang Keraton Kasepuhan Cirebon) yang terjadi pada tahun 1529 M, dengan pembangunan tembok keliling keraton, Siti
Inggil, dan lain-lain. Sebagai data
perbandingan, Siti Inggil
dibangun dengan ditandai candrasengkala Benteng Tinataan Bata yang menunjuk angka
tahun 1529 M. ↑Kembali Ke Bagian Sebelumnya Taman Candrasengkala Di Tamansari Gua Sunyaragi ada
sebuah taman Candrasengkala
yang disebut “Taman Bujengin
Obahing Bumi” yang menunjuk
angka tahun 1529. Di kedua
tempat itu juga terdapat persamaan, yakni terdapat
gapura “Candi Bentar” yang sama
besar bentuk dan
penggarapannya. Pangeran
Kararangen hanya membangun
kompleks Gua Arga Jumut dan Mande Kemasan saja. ↑Kembali Ke Bagian Sebelumnya Arsitektur gua Sunyaragi Potret gua Sunyaragi dengan latar belakang PLTG dan Gunung Ciremai. Dilihat dari gaya atau corak dan
motif-motif ragam rias yang
muncul serta pola-pola bangunan
yang beraneka ragam dapat
disimpulkan bahwa gaya arsitektur gua Sunyaragi merupakan hasil dari perpaduan
antara gaya Indonesia klasik atau Hindu, gaya Cina atau Tiongkok kuno, gaya Timur Tengah atau Islam dan gaya Eropa. Gaya Indonesia klasik atau Hindu
dapat terlihat pada beberapa
bangunan berbentuk joglo. Misalnya, pada bangunan Bale
Kambang, Mande Beling dan
gedung Pesanggrahan, bentuk gapura dan beberapa buah patung seperti patung gajah dan patung manusia berkepala garuda yang dililit oleh ular. Seluruh ornamen bangunan yang
ada menunjukkan adanya suatu
sinkretsime budaya yang kuat
yang berasal dari berbagai dunia.
Namun, umumnya dipengaruhi
oleh gaya arsitektur Indonesia Klasik atau Hindu. Gaya Cina terlihat pada [[ukiran] bunga seperti bentuk bunga persik, bunga matahari dan bunga teratai. Di beberapa tempat, dulu Gua Sunyaragi
dihiasi berbagai ornamen
keramik Cina di bagian luarnya.
Keramik-keramik itu sudah lama
hilang atau rusak sehingga tidak
diketahui coraknya yang pasti. Penempatan [[keramik|keramik-
keramik] pada bangunan Mande
Beling serta motif mega
mendung seperti pada kompleks
bangunan gua Arga Jumut
memperlihatkan bahwa gua Sunyaragi mendapatkan
pengaruh gaya arsitektur Cina.
Selain itu ada pula kuburan Cina,
kuburan tersebut bukanlah
kuburan dari seseorang
keturunan Cina melainkan merupakan sejenis monumen
yang berfungsi sebagai tempat
berdoa para keturunan
pengiring-pengiring dan
pengawal-pengawal Putri Cina yang bernama Ong Tien Nio atau
Ratu Rara Sumanding yang
merupakan istri dari Sunan Gunung Jati. wisatawan yang sedang memasuki gua Sunyaragi. Sebagai peninggalan keraton
yang dipimpin oleh Sultan yang
beragama Islam, gua Sunyaragi dilengkapi pula oleh pola-pola
arsitektur bergaya Islam atau Timur Tengah. Misalnya, relung- relung pada dinding beberapa
bangunan, tanda-tanda kiblat
pada tiap-tiap pasalatan atau musholla, adanya beberapa pawudlon atau tempat wudhu serta bentuk bangunan Bangsal
Jinem yang menyerupai bentuk Kabah jika dilihat dari sisi belakang Bangsal Jinem. Hal
tersebut menjelaskan bahwa
gaya arsitektur gua Sunyaragi
juga mendapat pengaruh dari
Timur Tengah atau Islam. Gua Sunyaragi didirikan pada
zaman penjajahan Belanda
sehingga gaya arsitektur Belanda
atau Eropa turut memengaruhi
gaya arsitektur gua Sunyaragi.
Tanda tersebut dapat terlihat pada bentuk jendela yang
tedapat pada bangunan
Kaputren, bentuk tangga
berputar pada gua Arga Jumut
dan bentuk gedung
Pesanggrahan. Secara visual, bangunan-
bangunan di kompleks gua
Sunyaragi lebih banyak
memunculkan kesan sakral.
Kesan sakral dapat terlihat
dengan adanya tempat bertapa seperti pada gua Padang Ati dan
gua Kelangenan, tempat salat dan
pawudon atau tempat untuk
mengambil air wudhu, lorong
yang menuju ke Arab dan Cina
yang terletak di dalam kompleks gua Arga Jumut; dan lorong
yang menuju ke Gunung Jati
pada kompleks gua Peteng. Di
depan pintu masuk gua Peteng
terdapat patung Perawan Sunti.
Menurut legenda masyarakat lokal, jika seorang gadis
memegang patung tersebut
maka ia akan susah untuk
mendapatkan jodoh. Kesan
sakral nampak pula pada bentuk
bangunan Bangsal Jinem yang menyerupai bentuk Kabah jika dilihat dari sisi belakang Bangsal
Jinem. Selain itu ada pula patung
Haji Balela yang menyerupai
patung Dewa Wisnu . Pada tahun 1997 pengelolaan gua Sunyaragi diserahkan oleh
pemerintah kepada pihak keraton Kasepuhan . Hal tersebut sangat berdampak pada kondisi
fisik gua Sunyaragi. Kurangnya
biaya pemeliharaan
menyebabkan lokasi wisata gua
Sunyaragi lama kelamaan makin
terbengkelai. ↑Kembali Ke Bagian Sebelumnya Pemugaran Tahun 1852, taman ini sempat
diperbaiki karena pada tahun
1787 sempat dirusak Belanda.
Saat itu, taman ini menjadi
benteng pertahanan. Tan Sam
Cay, seorang arsitek Cina, konon diminta Sultan Adiwijaya untuk memperbaikinya. Namun, arsitek
Cina itu ditangkap dan dibunuh
karena dianggap telah
membocorkan rahasia gua
Sunyaragi kepada Belanda. Karena itu, di kompleks Taman
Sunyaragi juga terdapat patok
bertulis ”Kuburan Cina”. Gua Sunyaragi setelah pemugaran. Pemugaran Tamansari Gua
Sunyaragi pernah dilakukan oleh
pemerintah kolonial Belanda pada
1937-1938. Pelaksanaannya
diserahkan kepada seorang
petugas Dinas Kebudayaan Semarang. Namanya, Krisjman. Ia hanya memperkuat konstruksi
aslinya dengan menambah tiang-
tiang atau pilar bata penguat,
terutama pada bagian atap
lengkung. Namun kadang-
kadang ia juga menghilangkan bentuk aslinya, apabila dianggap
membahayakan bangunan
keseluruhan. Seperti terlihat di
Gua Pengawal dan sayap kanan-
kiri antara gedung Jinem dan
Mande Beling. Pemugaran terakhir dilakukan
Direktorat Perlindungan dan
Pembinaan Sejarah dan
Purbakala, Direktorat Jenderal
Kebudayaan, yang memugar
Tamansari secara keseluruhan dari tahun 1976 hingga 1984.
Sejak itu tak ada lagi aktivitas
pemeliharan yang serius pada
kompleks ini. Bangunan tua ini hingga kini
masih ramai dikunjungi orang,
karena letaknya persis di tepi
jalan utama. Tempat parkir
lumayan luas, taman bagian
depan mendapat sentuhan baru untuk istirahat para wisatawan.
Terdapat juga panggung budaya
yang digunakan untuk
pementasan kesenian Cirebon.
Namun keadaan panggung
budaya tersebut kini kurang terurus, penuh dengan tanaman
liar. Kolam di kompleks Taman
Sari pun kurang terurus dan
airnya mengering. ↑Kembali Ke Bagian Sebelumnya Pranala luar (Indonesia) Taman Sari Gua Sunyaragi, Melacak Jejak
Kejayaan Arsitekstur Masa Silam “, Bayu Dwi Mardana, Kantor Administrasi dan Meseum
Tamansari Gua Sunyaragi –
Cirebon, Sinar Harapan 2003 . (Indonesia) Taman Sari Gua Sunyaragi, Cermin Kecanggihan Arsitektur Kuno “, Sinar Harapan 12/01/2003 . (Indonesia) Narasi Film Dokumentar Sunyaragi ]”, R. Supriyanto, Jurusan Desain
Komunikasi Visual,Fakultas
Desain dan Seni,UNIKOM, 2004, Digital Library ITB . (Indonesia) Petilasan Gua Sunyaragi “, Situs suara konsumen Pintunet.com (Indonesia) Koleksi pribadi foto Gua Sunyaragi”, Atmonadi

sejarah Wali songo

Walisongo Masjid Agung Demak , diyakini sebagai salah satu tempat berkumpulnya para wali yang paling awal. Walisongo Periode Pertama Pada waktu Mehmed I Celeby memerintah kerajaan Turki,
beliau menanyakan
perkembangan agama Islam
kepada para pedagang dari
Gujarat. Dari mereka Sultan
mendapat kabar berita bahwa di Pulau Jawa ada dua kerajaan
Hindu yaitu Majapahit dan Pajajaran. Di antara rakyatnya ada yang beragama Islam tapi
hanya terbatas pada keluarga
pedagang Gujarat yang kawin
dengan para penduduk pribumi
yaitu di kota-kota pelabuhan. Sang Sultan kemudian mengirim
surat kepada pembesar Islam di Afrika Utara dan Timur Tengah. Isinya meminta para ulama yang
mempunyai karomah untuk
dikirim ke pulau Jawa. Maka
terkumpullah sembilan ulama
berilmu tinggi serta memiliki
karomah. Menurut buku Haul Sunan Ampel Ke-555 yang ditulis oleh KH. Mohammad Dahlan,[1] majelis dakwah yang secara
umum dinamakan Walisongo,
sebenarnya terdiri dari beberapa
angkatan. Para Walisongo tidak
hidup pada saat yang persis
bersamaan, namun satu sama lain mempunyai keterkaitan erat,
baik dalam ikatan darah atau
karena pernikahan, maupun
dalam hubungan guru-murid. Bila
ada seorang anggota majelis
yang wafat, maka posisinya digantikan oleh tokoh lainnya.
Pada tahun 808 Hijrah atau 1404
Masehi para ulama itu berangkat
ke Pulau Jawa. Mereka adalah: 1. Maulana Malik Ibrahim atau Sunan Gresik, berasal dari Turki ahli mengatur negara.
Berdakwah di Jawa bagian
timur. Wafat di Gresik pada
tahun 1419 M. Makamnya
terletak satu kilometer dari
sebelah utara pabrik Semen Gresik.
2. Maulana Ishaq berasal dari Samarkand dekat Bukhara- uzbekistan /Rusia. Beliau ahli pengobatan. Setelah tugasnya di
Jawa selesai Maulana Ishak
pindah ke Samudra Pasai dan
wafat di sana.
3. Syekh Jumadil Qubro , berasal dari Mesir. Beliau berdakwah keliling. Makamnya di Troloyo
Trowulan, Mojokerto Jawa
Timur.
4. Maulana Muhammad Al Maghrobi, berasal dari Maroko, beliau berdakwah keliling. Wafat
tahun 1465 M. Makamnya di
Jatinom Klaten, Jawa Tengah.
5. Maulana Malik Isroil berasal dari Turki, ahli mengatur negara. Wafat tahun 1435 M. Makamnya
di Gunung Santri.
6. Maulana Muhammad Ali Akbar, berasal dari Persia Iran. Ahli pengobatan. Wafat 1435 M.
Makamnya di Gunung Santri.
7. Maulana Hasanuddin berasal dari Palestina Berdakwah keliling. Wafat pada tahun 1462 M.
Makamnya disamping masjid
Banten Lama.
8. Maulana Alayuddin berasal dari Palestina. Berdakwah keliling. Wafat pada tahun 1462
M. Makamnya disamping masjid
Banten Lama.
9. Syekh Subakir, berasal dari Persia, ahli menumbali (metode
rukyah) tanah angker yang
dihuni jin-jin jahat tukang
menyesatkan manusia. Setelah
para Jin tadi menyingkir dan lalu
tanah yang telah netral dijadikan pesantren. Setelah banyak
tempat yang ditumbali (dengan
Rajah Asma Suci) maka Syekh
Subakir kembali ke Persia pada
tahun 1462 M dan wafat di sana.
Salah seorang pengikut atau sahabat Syekh Subakir tersebut
ada di sebelah utara Pemandian
Blitar, Jawa Timur. Disana ada
peninggalan Syekh Subakir
berupa sajadah yang terbuat dari
batu kuno. ↑Kembali Ke Bagian Sebelumnya Walisongo Periode Kedua Pada periode kedua ini masuklah
tiga orang wali menggantikan
tiga wali yang wafat. Ketiganya
adalah: 1. Raden Ahmad Ali Rahmatullah, datang ke Jawa
pada tahun 1421 M menggantikan
Malik Ibrahim yang wafat pada
tahun 1419 M. Raden Rahmat atau Sunan Ampel berasal dari Champa, Muangthai Selatan
(Thailand Selatan).
2. Sayyid Ja’far Shodiq berasal dari Palestina, datang di Jawa
tahun 1436 menggantikan Malik
Isro’il yang wafat pada tahun
1435 M. Beliau tinggal di Kudus
sehingga dikenal dengan Sunan Kudus. 3. Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati, berasal dari Palestina. Datang di Jawa pada
tahun 1436 M. Menggantikan
Maulana Ali Akbar yang wafat
tahun 1435 M. Sidang walisongo
yang kedua ini diadakan di
Ampel Surabaya. Para wali kemudian membagi
tugas. Sunan Ampel, Maulana
Ishaq dan Maulana Jumadil Kubro
bertugas di Jawa Timur. Sunan
Kudus, Syekh Subakir dan
Maulana Al-Maghrobi bertugas di Jawa Tengah. Syarif Hidayatullah,
Maulana Hasanuddin dan Maulana
Aliyuddin di Jawa Barat. Dengan
adanya pembagian tugas ini
maka masing-masing wali telah
mempunyai wilayah dakwah sendiri-sendiri, mereka bertugas
sesuai keahlian masing-masing. ↑Kembali Ke Bagian Sebelumnya Walisongo Periode Ketiga Pada tahun 1463 M. Masuklah
menjadi anggota Walisongo
yaitu: 1. Sunan Giri kelahiran Blambangan Jawa Timur. Putra
dari Syekh Maulana Ishak dengan
putri Kerajaan Blambangan
bernama Dewi Sekardadu atau
Dewi Kasiyan. Raden Paku ini
menggantikan kedudukan ayahnya yang telah pindah ke
negeri Pasai. Karena Raden Paku
tinggal di Giri maka beliau lebih
terkenal dengan sebutan Sunan
Giri. Makamnya terletak di Gresik
Jawa Timur. 2. Raden Said, atau Sunan Kalijaga , kelahiran Tuban Jawa Timur. Beliau adalah putra
Adipati Wilatikta yang
berkedudukan di Tuban. Sunan
Kalijaga menggantikan Syekh
Subakir yang kembali ke Persia.
3. Raden Makdum Ibrahim, atau Sunan Bonang, lahir di Ampel Surabaya. Beliau adalah putra
Sunan Ampel, Sunan Bonang
menggantikan kedudukan Maulana Hasanuddin yang wafat pada tahun 1462. Sidang
Walisongo yang ketiga ini juga
berlangsung di Ampel Surabaya. ↑Kembali Ke Bagian Sebelumnya Walisongo Periode Keempat Pada tahun 1466 diangkat dua
wali menggantikan dua yang
telah wafat yaitu Maulana
Ahmad Jumadil Kubro dan
Maulana Muhammad Maghrobi.
Dua wali yang menggantikannya ialah: Raden Patah adalah murid Sunan Ampel, beliau adalah putra Raja
Brawijaya Majapahit. Beliau
diangkat sebagai Adipati Bintoro
pada tahun 1462 M. Kemudian
membangun Masjid Demak pada
tahun 1465 dan dinobatkan sebagai Raja atau Sultan Demak
pada tahun 1468.Setelah itu
Fathullah Khan, putra Sunan
Gunungjati, beliau dipilih sebagai
anggota Walisongo
menggantikan ayahnya yang telah berusia lanjut. ↑Kembali Ke Bagian Sebelumnya Walisongo Periode Kelima Dapat disimpulkan bahwa dalam
periode ini masuk Sunan Muria atau Raden Umar Said-putra
Sunan Kalijaga menggantikan
wali yang wafat. Konon Syekh Siti Jenar atau Syekh Lemah Abang itu adalah
salah satu anggota Walisongo,
namun karena Siti Jenar di
kemudian hari mengajarkan
ajaran yang menimbulkan
keresahan umat dan mengabaikan syariat agama
maka Siti Jenar dihukum mati.
Selanjutnya kedudukan Siti Jenar
digantikan oleh Sunan Bayat –
bekas Adipati Semarang (Ki
Pandanarang) yang telah menjadi murid Sunan Kalijaga. Walisongo atau Walisanga dikenal sebagai penyebar agama Islam di tanah Jawa pada abad ke 14. Mereka tinggal di tiga wilayah
penting pantai utara Pulau Jawa,
yaitu Surabaya-Gresik-Lamongan
di Jawa Timur, Demak-Kudus-
Muria di Jawa Tengah, dan
Cirebon di Jawa Barat. Era Walisongo adalah era
berakhirnya dominasi Hindu- Budha dalam budaya Nusantara untuk digantikan dengan
kebudayaan Islam. Mereka adalah simbol penyebaran Islam
di Indonesia, khususnya di Jawa.
Tentu banyak tokoh lain yang
juga berperan. Namun peranan
mereka yang sangat besar dalam
mendirikan Kerajaan Islam di Jawa, juga pengaruhnya
terhadap kebudayaan
masyarakat secara luas serta
dakwah secara langsung,
membuat para Walisongo ini
lebih banyak disebut dibanding yang lain. ↑Kembali Ke Bagian Sebelumnya Arti Walisongo Ada beberapa pendapat
mengenai arti Walisongo.
Pertama adalah wali yang
sembilan, yang menandakan
jumlah wali yang ada sembilan,
atau sanga dalam bahasa Jawa . Pendapat lain menyebutkan
bahwa kata songo/sanga berasal
dari kata tsana yang dalam bahasa Arab berarti mulia. Pendapat lainnya lagi menyebut
kata sana berasal dari bahasa Jawa , yang berarti tempat. Pendapat lain yang mengatakan
bahwa Walisongo adalah sebuah
majelis dakwah yang pertama kali didirikan oleh Sunan Gresik (Maulana Malik Ibrahim) pada tahun 1404 Masehi (808 Hijriah). [1] Saat itu, majelis dakwah
Walisongo beranggotakan
Maulana Malik Ibrahim sendiri, Maulana Ishaq (Sunan Wali Lanang), Maulana Ahmad Jumadil
Kubro (Sunan Kubrawi); Maulana
Muhammad Al-Maghrabi (Sunan
Maghribi); Maulana Malik Isra’il
(dari Champa), Maulana
Muhammad Ali Akbar, Maulana Hasanuddin, Maulana ‘Aliyuddin,
dan Syekh Subakir. Dari nama para Walisongo
tersebut, pada umumnya
terdapat sembilan nama yang
dikenal sebagai anggota
Walisongo yang paling terkenal,
yaitu: Sunan Gresik atau
Maulana
Malik
Ibrahim Sunan Ampel atau
Raden
Rahmat Sunan Sunan Drajat atau
Raden
Qasim Sunan Kudus atau
Ja’far
Shadiq Sunan Giri atau Sunan Kalijaga atau Raden
Said Sunan Muria atau Raden Uma
Said Sunan Gunung
Jati atau Syarif Para Walisongo adalah intelektual
yang menjadi pembaharu
masyarakat pada masanya.
Pengaruh mereka terasakan
dalam beragam bentuk
manifestasi peradaban baru masyarakat Jawa, mulai dari kesehatan , bercocok-tanam, perniagaan, kebudayaan , kesenian, kemasyarakatan, hingga ke pemerintahan. Sunan Gresik (Maulana Malik
Ibrahim) Artikel utama untuk bagian ini adalah: Sunan Gresik Makam Maulana Malik Ibrahim, desa Gapura, Gresik, Jawa Timur Maulana Malik Ibrahim adalah keturunan ke-22 dari Nabi Muhammad. Ia disebut juga Sunan Gresik, atau Sunan
Tandhes, atau Mursyid Akbar
Thariqat Wali Songo . Nasab As-
Sayyid Maulana Malik Ibrahim
Nasab Maulana Malik Ibrahim
menurut catatan Dari As-Sayyid Bahruddin Ba’alawi Al-Husaini
yang kumpulan catatannya
kemudian dibukukan dalam
Ensiklopedi Nasab Ahlul Bait
yang terdiri dari beberapa
volume (jilid). Dalam Catatan itu tertulis: As-Sayyid Maulana Malik
Ibrahim bin As-Sayyid Barakat
Zainal Alam bin As-Sayyid Husain
Jamaluddin bin As-Sayyid
Ahmad Jalaluddin bin As-Sayyid
Abdullah bin As-Sayyid Abdul Malik Azmatkhan bin As-Sayyid
Alwi Ammil Faqih bin As-Sayyid
Muhammad Shahib Mirbath bin
As-Sayyid Ali Khali’ Qasam bin
As-Sayyid Alwi bin As-Sayyid
Muhammad bin As-Sayyid Alwi bin As-Sayyid Ubaidillah bin Al-
Imam Ahmad Al-Muhajir bin Al-
Imam Isa bin Al-Imam
Muhammad bin Al-Imam Ali Al-
Uraidhi bin Al-Imam Ja’far Shadiq
bin Al-Imam Muhammad Al- Baqir bin Al-Imam Ali Zainal
Abidin bin Al-Imam Al-Husain
bin Sayyidah Fathimah Az-Zahra/
Ali bin Abi Thalib, binti Nabi
Muhammad Rasulullah Ia diperkirakan lahir di Samarkand di Asia Tengah, pada paruh awal abad ke-14. Babad Tanah Jawi versi Meinsma menyebutnya Asmarakandi,
mengikuti pengucapan lidah
orang Jawa terhadap As- Samarqandy. [2] Dalam cerita rakyat, ada yang memanggilnya
Kakek Bantal. Isteri Maulana Malik Ibrahim Maulana Malik Ibrahim memiliki,
3 isteri bernama: 1. Siti Fathimah
binti Ali Nurul Alam Maulana
Israil (Raja Champa Dinasti
Azmatkhan 1), memiliki 2 anak,
bernama: Maulana Moqfaroh dan Syarifah Sarah 2. Siti Maryam
binti Syaikh Subakir, memiliki 4
anak, yaitu: Abdullah, Ibrahim,
Abdul Ghafur, dan Ahmad 3. Wan
Jamilah binti Ibrahim Zainuddin
Al-Akbar Asmaraqandi, memiliki 2 anak yaitu: Abbas dan Yusuf.
Selanjutnya Sharifah Sarah binti
Maulana Malik Ibrahim
dinikahkan dengan Sayyid Fadhal
Ali Murtadha [Sunan Santri/
Raden Santri] dan melahirkan dua putera yaitu Haji Utsman (Sunan
Manyuran) dan Utsman Haji
(Sunan Ngudung). Selanjutnya
Sayyid Utsman Haji (Sunan
Ngudung) berputera Sayyid
Ja’far Shadiq [Sunan Kudus]. Maulana Malik Ibrahim umumnya
dianggap sebagai wali pertama
yang mendakwahkan Islam di
Jawa. Ia mengajarkan cara-cara
baru bercocok tanam dan banyak
merangkul rakyat kebanyakan, yaitu golongan masyarakat Jawa
yang tersisihkan akhir
kekuasaan Majapahit. Malik
Ibrahim berusaha menarik hati
masyarakat, yang tengah dilanda
krisis ekonomi dan perang saudara. Ia membangun
pondokan tempat belajar agama
di Leran, Gresik. Pada tahun 1419,
Malik Ibrahim wafat. Makamnya
terdapat di desa Gapura Wetan, Gresik, Jawa Timur . Sunan Ampel (Raden
Rahmat) Artikel utama untuk bagian ini adalah: Sunan Ampel Sunan Ampel bernama asli Raden Rahmat, keturunan ke-22 dari Nabi Muhammad, menurut riwayat ia adalah putra Ibrahim
Zainuddin Al-Akbar dan seorang
putri Champa yang bernama Dewi Condro Wulan binti Raja
Champa Terakhir Dari Dinasti
Ming. Nasab lengkapnya sebagai
berikut: Sunan Ampel bin Sayyid
Ibrahim Zainuddin Al-Akbar bin
Sayyid Jamaluddin Al-Husain bin Sayyid Ahmad Jalaluddin bin
Sayyid Abdullah bin Sayyid
Abdul Malik Azmatkhan bin
Sayyid Alwi Ammil Faqih bin
Sayyid Muhammad Shahib
Mirbath bin Sayyid Ali Khali’ Qasam bin Sayyid Alwi bin
Sayyid Muhammad bin Sayyid
Alwi bin Sayyid Ubaidillah bin
Sayyid Ahmad Al-Muhajir bin
Sayyid Isa bin Sayyid
Muhammad bin Sayyid Ali Al- Uraidhi bin Imam Ja’far Shadiq
bin Imam Muhammad Al-Baqir
bin Imam Ali Zainal Abidin bin
Imam Al-Husain bin Sayyidah
Fathimah Az-Zahra binti Nabi
Muhammad Rasulullah. Sunan Ampel umumnya dianggap
sebagai sesepuh oleh para wali
lainnya. Pesantrennya bertempat
di Ampel Denta, Surabaya , dan merupakan salah satu pusat
penyebaran agama Islam tertua
di Jawa. Ia menikah dengan Dewi
Condrowati yang bergelar Nyai
Ageng Manila, putri adipati Tuban
bernama Arya Teja dan menikah juga dengan Dewi Karimah binti
Ki Kembang Kuning. Pernikahan
Sunan Ampel dengan Dewi
Condrowati alias Nyai Ageng
Manila binti Aryo Tejo, berputera:
Sunan Bonang,Siti Syari’ah,Sunan Derajat,Sunan Sedayu,Siti
Muthmainnah dan Siti Hafsah.
Pernikahan Sunan Ampel dengan
Dewi Karimah binti Ki Kembang
Kuning, berputera: Dewi
Murtasiyah,Asyiqah,Raden Husamuddin (Sunan
Lamongan,Raden Zainal Abidin
(Sunan Demak),Pangeran
Tumapel dan Raden Faqih (Sunan
Ampel 2. Makam Sunan Ampel
teletak di dekat Masjid Ampel , Surabaya. Sunan Bonang (Makhdum
Ibrahim) Artikel utama untuk bagian ini adalah: Sunan Bonang Bonang, sederetan gong kecil diletakkan horisontal. Sunan Bonang adalah putra Sunan Ampel, dan merupakan
keturunan ke-23 dari Nabi Muhammad. Ia adalah putra Sunan Ampel dengan Nyai Ageng
Manila, putri adipati Tuban
bernama Arya Teja. Sunan
Bonang banyak berdakwah
melalui kesenian untuk menarik
penduduk Jawa agar memeluk agama Islam. Ia dikatakan
sebagai penggubah suluk Wijil
dan tembang Tombo Ati, yang
masih sering dinyanyikan orang.
Pembaharuannya pada gamelan Jawa ialah dengan memasukkan rebab dan bonang, yang sering dihubungkan dengan namanya. Universitas Leiden menyimpan sebuah karya sastra bahasa Jawa
bernama Het Boek van Bonang
atau Buku Bonang. Menurut
G.W.J. Drewes, itu bukan karya
Sunan Bonang namun mungkin
saja mengandung ajarannya. Sunan Bonang diperkirakan
wafat pada tahun 1525. Sunan Drajat Artikel utama untuk bagian ini adalah: Sunan Drajat Sunan Drajat adalah putra Sunan Ampel, dan merupakan
keturunan ke-23 dari Nabi Muhammad. Ia adalah putra Sunan Ampel dengan Nyai Ageng
Manila, putri adipati Tuban
bernama Arya Teja. Sunan Drajat
banyak berdakwah kepada
masyarakat kebanyakan. Ia
menekankan kedermawanan, kerja keras, dan peningkatan
kemakmuran masyarakat,
sebagai pengamalan dari agama
Islam. Pesantren Sunan Drajat
dijalankan secara mandiri sebagai
wilayah perdikan, bertempat di Desa Drajat, Kecamatan Paciran, Lamongan. Tembang macapat Pangkur disebutkan sebagai
ciptaannya. Gamelan
Singomengkok peninggalannya
terdapat di Musium Daerah Sunan
Drajat, Lamongan. Sunan Drajat
diperkirakan wafat wafat pada 1522. Sunan Kudus Artikel utama untuk bagian ini adalah: Sunan Kudus Sunan Kudus adalah putra Sunan Ngudung atau Raden Usman Haji, dengan Syarifah Ruhil atau Dewi
Ruhil yang bergelar Nyai Anom
Manyuran binti Nyai Ageng
Melaka binti Sunan Ampel. Sunan Kudus adalah keturunan ke-24 dari Nabi Muhammad. Sunan Kudus bin Sunan Ngudung bin
Fadhal Ali Murtadha bin Ibrahim
Zainuddin Al-Akbar bin
Jamaluddin Al-Husain bin Ahmad
Jalaluddin bin Abdillah bin Abdul
Malik Azmatkhan bin Alwi Ammil Faqih bin Muhammad
Shahib Mirbath bin Ali Khali’
Qasam bin Alwi bin Muhammad
bin Alwi bin Ubaidillah bin
Ahmad Al-Muhajir bin Isa bin
Muhammad bin Ali Al-Uraidhi bin Ja’far Shadiq bin Muhammad Al-
Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Al-
Husain bin Sayyidah Fathimah
Az-Zahra binti Nabi Muhammad
Rasulullah. Sebagai seorang wali,
Sunan Kudus memiliki peran yang besar dalam pemerintahan Kesultanan Demak , yaitu sebagai panglima perang, penasehat
Sultan Demak, Mursyid Thariqah
dan hakim peradilan negara. Ia
banyak berdakwah di kalangan
kaum penguasa dan priyayi
Jawa. Di antara yang pernah menjadi muridnya, ialah Sunan Prawoto penguasa Demak, dan Arya Penangsang adipati Jipang Panolan. Salah satu
peninggalannya yang terkenal
ialah Mesjid Menara Kudus, yang
arsitekturnya bergaya campuran
Hindu dan Islam. Sunan Kudus
diperkirakan wafat pada tahun 1550. Sunan Giri Artikel utama untuk bagian ini adalah: Sunan Giri Sunan Giri adalah putra Maulana Ishaq. Sunan Giri adalah keturunan ke-23 dari Nabi Muhammad, merupakan murid dari Sunan Ampel dan saudara
seperguruan dari Sunan Bonang.
Ia mendirikan pemerintahan
mandiri di Giri Kedaton , Gresik; yang selanjutnya berperan
sebagai pusat dakwah Islam di
wilayah Jawa dan Indonesia
timur, bahkan sampai ke
kepulauan Maluku. Salah satu
keturunannya yang terkenal ialah Sunan Giri Prapen, yang
menyebarkan agama Islam ke
wilayah Lombok dan Bima. Sunan Kalijaga Artikel utama untuk bagian ini adalah: Sunan Kalijaga Lukisan Sunan Kalijaga Sunan Kalijaga adalah putra adipati Tuban yang bernama
Tumenggung Wilatikta atau
Raden Sahur atau Sayyid Ahmad
bin Mansur (Syekh Subakir). Ia
adalah murid Sunan Bonang.
Sunan Kalijaga menggunakan kesenian dan kebudayaan
sebagai sarana untuk
berdakwah, antara lain kesenian wayang kulit dan tembang suluk. Tembang suluk Ilir-Ilir dan Gundul-Gundul Pacul umumnya
dianggap sebagai hasil karyanya.
Dalam satu riwayat, Sunan
Kalijaga disebutkan menikah
dengan Dewi Saroh binti Maulana Ishaq, menikahi juga Syarifah Zainab binti Syekh Siti Jenar dan
Ratu Kano Kediri binti Raja
Kediri. Sunan Muria (Raden Umar
Said) Artikel utama untuk bagian ini adalah: Sunan Muria Sunan Muria atau Raden Umar Said adalah putra Sunan Kalijaga.
Ia adalah putra dari Sunan
Kalijaga dari isterinya yang
bernama Dewi Sarah binti
Maulana Ishaq. Sunan Muria
menikah dengan Dewi Sujinah, putri Sunan Ngudung. Jadi Sunan
Muria adalah adik ipar dari Sunan
Kudus. Sunan Gunung Jati (Syarif
Hidayatullah) Artikel utama untuk bagian ini adalah: Sunan Gunung Jati Lukisan Sunan Gunung Jati Gapura Makam Sunan Gunung Jati di Cirebon, Jawa Barat Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah adalah putra Syarif
Abdullah Umdatuddin putra Ali
Nurul Alam putra Syekh Husain
Jamaluddin Akbar. Dari pihak
ibu, ia masih keturunan keraton Pajajaran melalui Nyai Rara Santang, yaitu anak dari Sri Baduga Maharaja. Sunan Gunung Jati mengembangkan Cirebon
sebagai pusat dakwah dan
pemerintahannya, yang
sesudahnya kemudian menjadi Kesultanan Cirebon . Anaknya yang bernama Maulana Hasanuddin, juga berhasil mengembangkan kekuasaan dan
menyebarkan agama Islam di
Banten, sehingga kemudian
menjadi cikal-bakal berdirinya Kesultanan Banten . ↑Kembali Ke Bagian Sebelumnya Tokoh pendahulu Walisongo Syekh Jumadil Qubro Artikel utama untuk bagian ini adalah: Syekh Jumadil Qubro Syekh Jumadil Qubro adalah Maulana Ahmad Jumadil Kubra
bin Husain Jamaluddin bin Ahmad
Jalaluddin bin Abdillah bin Abdul
Malik Azmatkhan bin Alwi
Ammil Faqih bin Muhammad
Shahib Mirbath bin Ali Khali’ Qasam bin Alwi bin Muhammad
bin Alwi bin Ubaidillah bin
Ahmad Al-Muhajir bin Isa bin
Muhammad bin Ali Al-Uraidhi bin
Ja’far Shadiq bin Muhammad Al-
Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Al- Husain bin Sayyidah Fathimah
Az-Zahra binti Nabi Muhammad
Rasulullah Syekh Jumadil Qubro adalah putra Husain Jamaluddin
dari isterinya yang bernama
Puteri Selindung Bulan (Putri
Saadong II/ Putri Kelantan Tua).
Tokoh ini sering disebutkan
dalam berbagai babad dan cerita rakyat sebagai salah seorang
pelopor penyebaran Islam di
tanah Jawa. Makamnya terdapat di beberapa
tempat yaitu di Semarang,
Trowulan, atau di desa Turgo
(dekat Pelawangan),
Yogyakarta. Belum diketahui
yang mana yang betul-betul merupakan kuburnya. [3][4] ↑Kembali Ke Bagian Sebelumnya Teori keturunan Hadramaut Walaupun masih ada pendapat
yang menyebut Walisongo
adalah keturunan Samarkand
(Asia Tengah), Champa atau
tempat lainnya, namun
tampaknya tempat-tampat tersebut lebih merupakan jalur
penyebaran para mubaligh
daripada merupakan asal-muasal
mereka yang sebagian besar
adalah kaum Sayyid atau Syarif . Beberapa argumentasi yang
diberikan oleh Muhammad Al
Baqir, dalam bukunya Thariqah
Menuju Kebahagiaan,
mendukung bahwa Walisongo
adalah keturunan Hadramaut (Yaman):

Riwayah hidup Sunan gunung jati cirebon

Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah [1], lahir sekitar 1450 M, namun ada juga yang mengatakan bahwa ia lahir pada
sekitar 1448 M. Sunan Gunung Jati adalah salah satu dari kelompok ulama besar di Jawa bernama walisongo. Sunan Gunung Jati merupakan satu-satunya
Walisongo yang menyebarkan
Islam di Jawa Barat . Orang tua Ayah Sunan Gunung Jati bernama Syarif Hidayatullah , lahir sekitar tahun 1450. Ayahnya adalah Syarif Abdullah bin Nur
Alam bin Jamaluddin Akbar,
seorang Mubaligh dan Musafir
besar dari Gujarat, India yang sangat dikenal sebagai Syekh
Maulana Akbar bagi kaum Sufi di
tanah air. Syekh Maulana Akbar
adalah putra Ahmad Jalal Syah
putra Abdullah Khan putra Abdul
Malik putra Alwi putra Syekh Muhammad Shahib Mirbath, ulama besar di Hadramaut, Yaman yang silsilahnya sampai kepada Rasulullah melalui cucunya Imam Husain. Ibu Ibu Sunan Gunung Jati adalah
Nyai Rara Santang (Syarifah
Muda’im) yaitu putri dari Sri
Baduga Maharaja Prabu Siliwangi dari Nyai Subang Larang, dan
merupakan adik dari Kian
Santang atau Pangeran
Walangsungsang yang bergelar
Cakrabuwana / Cakrabumi atau
Mbah Kuwu Cirebon Girang yang berguru kepada Syekh Datuk Kahfi , seorang Muballigh asal Baghdad bernama asli Idhafi Mahdi bin Ahmad. Ia
dimakamkan bersebelahan
dengan putranya yaitu Sunan
Gunung Jati di Komplek Astana
Gunung Sembung ( Cirebon ) Silsilah .Sunan Gunung Jati @ Syarif
Hidayatullah Al-Khan bin .Sayyid ‘Umadtuddin Abdullah
Al-Khan bin .Sayyid ‘Ali Nuruddin Al-Khan @
‘Ali Nurul ‘Alam bin .Sayyid Syaikh Jumadil Qubro @ Jamaluddin Akbar al-Husaini bin .Sayyid Ahmad Shah Jalal @
Ahmad Jalaludin Al-Khan bin .Sayyid Abdullah Al-‘Azhomatu
Khan bin .Sayyid Amir ‘Abdul Malik Al-
Muhajir (Nasrabad,India) bin .Sayyid Alawi Ammil Faqih
(Hadhramaut) bin .Muhammad Sohib Mirbath (Hadhramaut)bin .Sayyid Ali Kholi’ Qosim bin .Sayyid Alawi Ats-Tsani bin .Sayyid Muhammad Sohibus
Saumi’ah bin .Sayyid Alawi Awwal bin .Sayyid Al-Imam ‘Ubaidillah bin .Ahmad al-Muhajir bin .Sayyid ‘Isa Naqib Ar-Rumi bin .Sayyid Muhammad An-Naqib bin .Sayyid Al-Imam Ali Uradhi bin .Sayyidina Ja’far As-Sodiq bin .Sayyidina Muhammad Al Baqir
bin .Sayyidina ‘Ali Zainal ‘Abidin bin .Al-Imam Sayyidina Hussain .Al-Husain putera Ali bin Abu
Tholib dan Fatimah Az-Zahra binti Muhammad Silsilah dari Raja Pajajaran .Sunan Gunung Jati @ Syarif
Hidayatullah .Rara Santang (Syarifah Muda’im) .Prabu Jaya Dewata @ Raden
Pamanah Rasa @ Prabu Siliwangi
II .Prabu Dewa Niskala (Raja Galuh/
Kawali) .Niskala Wastu Kancana @ Prabu
Siliwangi I .Prabu Linggabuana @ Prabu
Wangi (Raja yang tewas di
Bubat) Pertemuan orang tuanya Pertemuan Rara Santang dengan
Syarif Abdullah cucu Syekh
Maulana Akbar masih
diperselisihkan. Sebagian riwayat
(lebih tepatnya mitos)
menyebutkan bertemu pertama kali di Mesir, tapi analisis yang lebih kuat atas dasar
perkembangan Islam di pesisir
ketika itu, pertemuan mereka di
tempat-tempat pengajian seperti
yang di Majelis Syekh Quro,
Karawang (tempat belajar Nyai Subang Larang ibu dari Rara
Santang) atau di Majelis Syekh
Datuk Kahfi, Cirebon (tempat
belajar Kian Santang kakanda
dari Rara Santang). Syarif Abdullah cucu Syekh
Maulana Akbar, sangat mungkin
terlibat aktif membantu
pengajian di majelis-majelis itu
mengingat ayah dan kakeknua
datang ke Nusantara sengaja untuk menyokong
perkembangan agama Islam
yang telah dirintis oleh para
pendahulu. Pernikahan Rara Santang putri
dari Prabu Siliwangi dan Nyai
Subang Larang dengan Abdullah
cucu Syekh Maulana Akbar
melahirkan seorang putra yang
diberi nama Raden Syarif Hidayatullah. ↑Kembali Ke Bagian Sebelumnya Perjalanan Hidup Proses belajar Raden Syarif Hidayatullah
mewarisi kecendrungan spiritual
dari kakek buyutnya Syekh
Maulana Akbar sehingga ketika
telah selesai belajar agama di
pesantren Syekh Datuk Kahfi ia meneruskan ke Timur Tengah.
Tempat mana saja yang
dikunjungi masih diperselisihkan,
kecuali (mungkin) Mekah dan Madinah karena ke 2 tempat itu wajib dikunjungi sebagai bagian
dari ibadah haji untuk umat Islam. Babad Cirebon menyebutkan
ketika Pangeran Cakrabuwana
membangun kota Cirebon dan
tidak mempunyai pewaris, maka
sepulang dari Timur Tengah
Raden Syarif Hidayatullah mengambil peranan mambangun
kota Cirebon dan menjadi pemimpin perkampungan Muslim
yang baru dibentuk itu setelah
Uwaknya wafat. Pernikahan Memasuki usia dewasa sekitar di
antara tahun 1470-1480, ia
menikahi adik dari Bupati Banten
ketika itu bernama Nyai
Kawunganten. Dari pernikahan
ini, ia mendapatkan seorang putri yaitu Ratu Wulung Ayu dan Maulana Hasanuddin yang kelak menjadi Sultan Banten I. Kesultanan Demak Masa ini kurang banyak diteliti
para sejarawan hingga tiba masa
pendirian Kesultanan Demak tahun 1487 yang mana ia
memberikan andil karena sebagai
anggota dari Dewan Muballigh
yang sekarang kita kenal dengan
nama Walisongo. Pada masa ini, ia berusia sekitar 37 tahun kurang
lebih sama dengan usia Raden Patah yang baru diangkat menjadi Sultan Demak I bergelar
Alam Akbar Al Fattah. Bila Syarif
Hidayat keturunan Syekh
Maulana Akbar Gujarat dari pihak
ayah, maka Raden Patah adalah
keturunannya juga tapi dari pihak ibu yang lahir di Campa. Dengan diangkatnya Raden Patah
sebagai Sultan di Pulau Jawa
bukan hanya di Demak, maka
Cirebon menjadi semacam Negara
Bagian bawahan vassal state dari
kesultanan Demak, terbukti dengan tidak adanya riwayat
tentang pelantikan Syarif
Hidayatullah secara resmi sebagai
Sultan Cirebon. Hal ini sesuai dengan strategi
yang telah digariskan Sunan
Ampel, Ulama yang paling di-tua-
kan di Dewan Muballigh, bahwa
agama Islam akan disebarkan di
P. Jawa dengan Kesultanan Demak sebagai pelopornya. Gangguan proses Islamisasi Setelah pendirian Kesultanan
Demak antara tahun 1490 hingga
1518 adalah masa-masa paling
sulit, baik bagi Syarif Hidayat dan
Raden Patah karena proses
Islamisasi secara damai mengalami gangguan internal
dari kerajaan Pakuan dan Galuh (di Jawa Barat) dan Majapahit (di Jawa Tengah dan Jawa Timur)
dan gangguan external dari Portugis yang telah mulai expansi di Asia Tenggara. Tentang personaliti dari Syarif
Hidayat yang banyak dilukiskan
sebagai seorang Ulama
kharismatik, dalam beberapa
riwayat yang kuat, memiliki
peranan penting dalam pengadilan Syekh Siti Jenar pada tahun 1508 di pelataran Masjid
Demak. Ia ikut membimbing
Ulama berperangai ganjil itu
untuk menerima hukuman mati
dengan lebih dulu melucuti ilmu
kekebalan tubuhnya. Eksekusi yang dilakukan Sunan
Kalijaga akhirnya berjalan baik,
dan dengan wafatnya Syekh Siti
Jenar, maka salah satu duri dalam
daging di Kesultana Demak telah
tercabut. Raja Pakuan di awal abad 16,
seiring masuknya Portugis di
Pasai dan Malaka, merasa
mendapat sekutu untuk
mengurangi pengaruh Syarif
Hidayat yang telah berkembang di Cirebon dan Banten. Hanya Sunda Kelapa yang masih dalam kekuasaan Pakuan. Di saat yang genting inilah Syarif
Hidayat berperan dalam
membimbing Pati Unus dalam pembentukan armada gabungan
Kesultanan Banten, Demak,
Cirebon di P. Jawa dengan misi
utama mengusir Portugis dari
wilayah Asia Tenggara. Terlebih
dulu Syarif Hidayat menikahkan putrinya untuk menjadi istri Pati
Unus yang ke 2 pada tahun 1511. Kegagalan expedisi jihad II Pati
Unus yang sangat fatal pada
tahun 1521 memaksa Syarif
Hidayat merombak Pimpinan
Armada Gabungan yang masih
tersisa dan mengangkat Tubagus Pasai (belakangan dikenal dengan
nama Fatahillah),untuk menggantikan Pati Unus yang
syahid di Malaka, sebagai
Panglima berikutnya dan
menyusun strategi baru untuk
memancing Portugis bertempur
di P. Jawa. Sangat kebetulan karena Raja
Pakuan telah resmi mengundang
Armada Portugis datang ke
Sunda Kelapa sebagai dukungan
bagi kerajaan Pakuan yang
sangat lemah di laut yang telah dijepit oleh Kesultanan Banten di Barat dan Kesultanan Cirebon di Timur. Kedatangan armada Portugis
sangat diharapkan dapat
menjaga Sunda Kelapa dari
kejatuhan berikutnya karena
praktis Kerajaan Hindu Pakuan
tidak memiliki lagi kota pelabuhan di P. Jawa setelah
Banten dan Cirebon menjadi
kerajaan-kerajaan Islam. Tahun 1527 bulan Juni Armada Portugis datang dihantam
serangan dahsyat dari Pasukan
Islam yang telah bertahun-tahun
ingin membalas dendam atas
kegagalan expedisi Jihad di
Malaka 1521. Dengan ini jatuhlah Sunda Kelapa
secara resmi ke dalam Kesultanan
Banten-Cirebon dan di rubah
nama menjadi Jayakarta dan Tubagus Pasai mendapat gelar
Fatahillah. Perebutan pengaruh antara
Pakuan-Galuh dengan Cirebon-
Banten segera bergeser kembali
ke darat. Tetapi Pakuan dan Galuh
yang telah kehilangan banyak
wilayah menjadi sulit menjaga keteguhan moral para
pembesarnya. Satu persatu dari
para Pangeran, Putri Pakuan di
banyak wilayah jatuh ke dalam
pelukan agama Islam. Begitu pula
sebagian Panglima Perangnya. Perundingan Yang Sangat
Menentukan Satu hal yang sangat unik dari
personaliti Syarif Hidayatullah
adalah dalam riwayat jatuhnya
Pakuan Pajajaran, ibu kota
Kerajaan Sunda pada tahun 1568 hanya setahun sebelum ia wafat
dalam usia yang sangat sepuh
hampir 120 tahun (1569).
Diriwayatkan dalam perundingan
terakhir dengan para Pembesar
istana Pakuan, Syarif Hidayat memberikan 2 opsi. Yang pertama Pembesar Istana
Pakuan yang bersedia masuk
Islam akan dijaga kedudukan
dan martabatnya seperti gelar
Pangeran, Putri atau Panglima dan
dipersilakan tetap tinggal di keraton masing-masing. Yang ke
dua adalah bagi yang tidak
bersedia masuk Islam maka
harus keluar dari keraton
masing-masing dan keluar dari
ibukota Pakuan untuk diberikan tempat di pedalaman Banten
wilayah Cibeo sekarang. Dalam perundingan terakhir yang
sangat menentukan dari riwayat
Pakuan ini, sebagian besar para
Pangeran dan Putri-Putri Raja
menerima opsi ke 1. Sedang
Pasukan Kawal Istana dan Panglimanya (sebanyak 40
orang) yang merupakan Korps
Elite dari Angkatan Darat Pakuan
memilih opsi ke 2. Mereka inilah
cikal bakal penduduk Baduy
Dalam sekarang yang terus menjaga anggota pemukiman
hanya sebanyak 40 keluarga
karena keturunan dari 40
pengawal istana Pakuan.
Anggota yang tidak terpilih
harus pindah ke pemukiman Baduy Luar . Yang menjadi perdebatan para
ahli hingga kini adalah opsi ke 3
yang diminta Para Pendeta Sunda Wiwitan . Mereka menolak opsi pertama dan ke 2. Dengan kata
lain mereka ingin tetap memeluk
agama Sunda Wiwitan (aliran
Hindu di wilayah Pakuan) tetapi
tetap bermukim di dalam
wilayah Istana Pakuan. Sejarah membuktikan hingga
penyelidikan yang dilakukan
para Arkeolog asing ketika masa
penjajahan Belanda, bahwa istana
Pakuan dinyatakan hilang karena
tidak ditemukan sisa-sisa reruntuhannya. Sebagian
riwayat yang diyakini kaum Sufi
menyatakan dengan
kemampuan yang diberikan
Allah karena doa seorang Ulama
yang sudah sangat sepuh sangat mudah dikabulkan, Syarif
Hidayat telah memindahkan
istana Pakuan ke alam ghaib
sehubungan dengan kerasnya
penolakan Para Pendeta Sunda
Wiwitan untuk tidak menerima Islam ataupun sekadar keluar
dari wilayah Istana Pakuan. Bagi para sejarawan, ia adalah
peletak konsep Negara Islam
modern ketika itu dengan bukti
berkembangnya Kesultanan
Banten sebagi negara maju dan
makmur mencapai puncaknya 1650 hingga 1680 yang runtuh
hanya karena pengkhianatan
seorang anggota istana yang
dikenal dengan nama Sultan Haji. Dengan segala jasanya umat
Islam di Jawa Barat
memanggilnya dengan nama
lengkap Syekh Maulana Syarif
Hidayatullah Sunan Gunung Jati
Rahimahullah.

legenda putri ong tien(istri sunan gunung jati cirebon)

Nama Putri Ong Tien tidak asing bagi telinga masyarakat Indonesia yang tinggal di Cirebon dan sekitarnya. Putri Ong Tien adalah isteri Sunan Gunung Jati yang makamnya terletak di kota Cirebon. Kisah Putri Ong Tien bermula dari kunjungan Sunan Gunung Jati ke negeri China untuk menyebarluaskan agama Islam. Saat berada di China, Sunan Gunung Jati membuka praktek sebagai ahli pengobatan dan berhasil menyembuhkan banyak masyarakat di China. Namanya dikenal secara luas sebagai tabib sakti. Karena popularitasnya yang terus melejit, maka Sunan Gunung Jati dipanggil ke istana oleh Raja China. Sunan Gunung Jati diuji untuk menebak siapakah diantara dua putrinya yang sedang hamil. Sunan Gunung Jati menunjuk ke perut Putri Ong Tien padahal sebelumnya putri tersebut masih perawan dan belum menikah. Anehnya, perut Putri Ong Tien menjadi membusung dan benar-benar hamil. Raja menjadi murka dan mengusir Sunan
Gunung Jati dari daratan China. Sunan Gunung Jati akhirnya
kembali ke tanah Jawa. Tak
disangka, Putri Ong Tien yang
terlanjur jatuh cinta ikut menyusul
Sunan Gunung Jati ke Pulau Jawa.
Singkat cerita, Sunan Gunung Jati akhirnya menikah dengan Putri Ong
Tien. Dalam salah satu cerita dalam
Babad Tanah Jawa, pernikahan
Sunan Gunung Jati dan Putri Ong
Tien berlangsung pada tahun 1481.
Namun sayang, usia Putri Ong Tien tidak panjang karena pada tahun
1485 dia meninggal dan
dimakamkan di Cirebon. Keberadaan Putri Ong Tien ini bisa dibuktikan dengan adanya makam bergaya China yang ada di dekat makam Sunan Gunung Jati di Cirebon. Banyak warga keturunan Tionghoa dan warga muslim yang berziarah ke makam Putri Ong Tien setiap tahunnya. Makam tersebut menjadi bukti bahwa pada jaman dulu masyarakat Indonesia bisa menjalankan toleransi beragama. Selain itu, kebudayaan China pun diseleksi dan ikut menyatu dalam kehidupan masyarakat setempat. Saat kedatangan Putri Ong Tien dari China, rombongan tersebut membawa serta berbagai barang berharga dari kerajaan China. Misalnya guci, tembikar, pakaian sutra, permata, piring dan perhiasan emas. Hal tersebut menambah kekayaan budaya Indonesia, khususnya di Cirebon. Makam Sunan Gunung Jati pun dihiasi dengan beragam piring China yang bertuliskan kalimat Islami. Hiasan tersebut bisa kita temui pada dinding makam. Tertarik untuk membuktikan? Ayo berkunjung ke Cirebon!

sejarah keraton2 dicirebon

Kesepuhan Pangeran Sri Mangana
Cakrabuana, putra Prabu
Siliwangi dari Kerajaan
Padjajaran Bogor, tercatat
sebagai pendiri Keraton
Pakungwati sekitar tahun 1480 M. Kedudukannya sebagai putra
mahkota dan tumenggung di
Cirebon tak membuatnya ragu
untuk memisahkan diri dari
Kerajaan Padjajaran. Keputusan
tersebut diambil agar beliau lebih leluasa mengembangkan
agama Islam dan sekaligus
terbebas dari pengaruh agama
Hindu, agama resmi Kerajaan
Padjajaran.Nama Pakungwati
diambil dari nama Ratu Ayu Pakungwati, puteri Pangeran
Cakrabuana sendiri. Kelak, Ratu
Ayu Pakungwati menikah
dengan Syarif Hidayatullah, atau
yang lebih populer dengan nama
Sunan Gunung Djati. Setelah Pangeran Cakrabuana mangkat,
Sunan Gunung Djati naik tahta
pada tahun 1483 M. Selain
sebagai seorang pemimpin yang
disegani, Sunan Gunung Djati
juga dikenal sebagai seorang ulama terkemuka di
Cirebon.Pada tahun 1568 M
Sunan Gunung Djati wafat.
Kemudian, posisinya digantikan
oleh cucunya, Pangeran Emas
yang bergelar Panembahan Ratu. Pada masa Pangeran Emas
inilah dibangun keraton baru di
sebelah barat Dalem Agung
yang diberi nama Keraton
Pakungwati. Sejak tahun 1697
M, Keraton Pakungwati lebih dikenal dengan nama Keraton
Kasepuhan dan sultannya
bergelar Sultan Sepuh.Pada
tahun 1988, untuk menjaga dan
melindungi keaslian keraton,
terutama koleksi benda-benda kuno peninggalan Kesultanan
Cirebon, dua ruangan yang
berada di bagian depan Keraton
Kasepuhan dijadikan museum
yang dapat dikunjungi oleh
masyarakat luas. Kereta singa
barong kesepuhan Kereta Singa Barong adalah hasil
karya Panembahan Losari, cucu
Sunan Gunung Jati, yang
dibuatnya pada 1549. Ukiran
binatang pada kereta Kereta
Singa Barong ini berbelalai gajah yang melambangkan
persahabatan Kasultanan
Cirebon dengan India, berkepala
naga sebagai lambang
persahabatan dengan Cina, serta
bersayap dan berbadan Buroq yang melambangkan
persahabatan dengan Mesir. Keraton Kanoman Keraton Kanoman didirikan oleh
Sultan Kanoman I (Sultan
Badridin) turunan ke VII dari
Sunan Gunung Jati (Syarief
Hidayatullah) pada tahun 510
tahun Saka atau tahun 1588 Masehi Kereta Paksi Naga
Liman Kereta Paksi Naga Liman yang
merupakan Kereta kebesaran
Sunan Gunung Jati dan para
Sultan Cirebon ini dibuat pada
tahun yang sama dengan Kereta
Jempana, yaitu tahun Saka 1350 atau 1428, juga atas prakarsa
Pangeran Losari. Kereta Paksi
Naga Liman menggabungkan
bentuk paksi (burung), naga,
dan liman (gajah) yang
belalainya memegang senjata trisula ganda. Keistimewaan
Kereta Paksi Naga Liman yang
disimpan di Keraton Kanoman
ini ada pada bagian sayapnya
yang bisa mengepak saat kereta
sedang berjalan. Keraton
Kacirebonan Keraton Kacirebonan
merupakan keraton yang paling
kecil diantara keraton lain yang
ad di daerah cirebon.Sejarah
Keraton Kacirebonan dimulai
ketika Pangeran Raja Kanoman, pewaris takhta Kesultanan
Keraton Kanoman bergabung
dengan rakyat Cirebon dalam
menolak pajak yang diterapkan
Belanda, yang memicu
pemberontakan di beberapa tempat. Pangeran Raja Kanoman
kemudian tertangkap oleh
Belanda dan dibuang ke benteng
Viktoria di Ambon, dilucuti
gelarnya, serta dicabut haknya
sebagai Sultan Keraton Kanoman. Namun karena
perlawanan rakyat Cirebon
tidak juga reda, Belanda
akhirnya membawa kembali
Pangeran Raja Kanoman ke
Cirebon dalam upaya mengakhiri pemberontakan.
Status kebangsawanan
Pangeran Raja Kanoman pun
dikembalikan, namun haknya
atas Kesultanan Keraton
Kanoman tetap dicabut.

sejarah kota cirebon

Mengawali cerita sejarah ini sebagai Purwadaksina, Purwa Kawitan Daksina Kawekasan, tersebutlah kerajaan besar di kawasan barat pulau Jawa PAKUAN PAJAJARAN yang Gemah Ripah Repeh Rapih Loh Jinawi Subur Kang Sarwa Tinandur Murah Kang Sarwa Tinuku, Kaloka Murah Sandang Pangan Lan Aman Tentrem Kawontenanipun. Dengan Rajanya JAYA DEWATA bergelar SRI BADUGA MAHARAJA PRABU SILIWANGI Raja Agung, Punjuling Papak, Ugi Sakti Madraguna, Teguh Totosane Bojona Kulit Mboten Tedas Tapak Paluneng Pande, Dihormati, disanjung Puja rakyatnya dan disegani oleh lawan-lawannya. Raja Jaya Dewata menikah dengan Nyai Subang Larang dikarunia 2 (dua) orang putra dan seorang putri, Pangeran Walangsungsang yang lahir pertama tahun 1423 Masehi, kedua Nyai Lara Santang lahir tahun 1426 Masehi. Sedangkan Putra yang ketiga Raja Sengara lahir tahun 1428 Masehi. Pada tahun 1442 Masehi Pangeran Walangsungsang menikah dengan Nyai Endang Geulis Putri Ki Gedheng Danu Warsih dari Pertapaan Gunung Mara Api. Mereka singgah di beberapa petapaan antara lain petapaan Ciangkup di desa Panongan (Sedong), Petapaan Gunung Kumbang di daerah Tegal dan Petapaan Gunung Cangak di desa Mundu Mesigit, yang terakhir sampe ke Gunung Amparan Jati dan
disanalah bertemu dengan Syekh Datuk Kahfi yang berasal dari kerajaan Parsi. Ia adalah seorang Guru Agama Islam yang luhur ilmu dan budi pekertinya. Pangeran Walangsungsang beserta adiknya Nyai Lara Santang dan istrinya Nyai Endang Geulis berguru Agama Islam
kepada Syekh Nur Jati dan menetap
bersama Ki Gedheng Danusela adik Ki Gedheng Danuwarsih. Oleh Syekh Nur Jati, Pangeran Walangsungsang diberi nama Somadullah dan diminta untuk membuka hutan di pinggir Pantai Sebelah Tenggara Gunung Jati (Lemahwungkuk sekarang). Maka sejak itu berdirilah Dukuh Tegal Alang-Alang yang kemudian diberi nama Desa Caruban (Campuran) yang semakin lama menjadi ramai dikunjungi dan dihuni oleh berbagai suku bangsa untuk berdagang, bertani dan mencari ikan di laut. Danusela (Ki Gedheng Alang-Alang) oleh masyarakat dipilih sebagai Kuwu yang pertama dan setelah meninggal pada tahun 1447 Masehi digantikan oleh Pangeran Walangsungsang sebagai Kuwu Carbon yang kedua bergelar Pangeran Cakrabuana. Atas petunjuk Syekh Nur Jati, Pangeran Walangsungsang dan Nyai Lara Santang menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci Mekah. Pangeran Walangsungsang mendapat gelar Haji Abdullah Iman dan adiknya Nyai Lara Santang mendapat gelar Hajah Sarifah Mudaim, kemudian menikah dengan seorang Raja Mesir bernama Syarif Abullah. Dari hasil perkawinannya dikaruniai 2 (dua) orang putra, yaitu Syarif Hidayatullah dan Syarif Nurullah. Sekembalinya dari Mekah, Pangeran Cakrabuana mendirikan Tajug dan Rumah Besar yang diberi nama Jelagrahan, yang kemudian dikembangkan menjadi Keraton Pakungwati (Keraton Kasepuhan sekarang) sebagai tempat kediaman
bersama Putri Kinasih Nyai Pakungwati. Stelah Kakek Pangeran Cakrabuana Jumajan Jati Wafat, maka Keratuan di Singapura tidak dilanjutkan (Singapura terletak + 14 Km sebelah Utara Pesarean Sunan Gunung Jati) tetapi harta peninggalannya digunakan untuk bangunan Keraton Pakungwati dan juga membentuk prajurit dengan nama Dalem Agung Nyi Mas Pakungwati. Prabu Siliwangi melalui utusannya, Tumenggung Jagabaya dan Raja Sengara (adik Pangeran Walangsungsang), mengakat Pangeran Carkrabuana menjadi Tumenggung dengan Gelar Sri Mangana. Pada Tahun 1470 Masehi Syarif Hiyatullah setelah berguru di Mekah, Bagdad, Campa dan Samudra Pasai, datang ke Pulau Jawa, mula-mula tiba di Banten kemudian Jawa Timur dan mendapat kesempatan untuk bermusyawarah dengan para wali yang dipimpin oleh Sunan Ampel. Musyawarah tersebut menghasilkansuatu lembaga yang bergerak dalam penyebaran Agama
Islam di Pulau Jawa dengan nama Wali Sanga. Sebagai anggota dari lembaga tersebut, Syarif Hidayatullah datang
ke Carbon untuk menemui Uwaknya, Tumenggung Sri Mangana (Pangeran Walangsungsang) untuk mengajarkan Agama Islam di daerah Carbon dan sekitarnya, maka didirikanlah sebuah padepokan yang disebut pekikiran (di Gunung Sembung sekarang) Setelah Suna Ampel wafat tahun 1478 Masehi, maka dalam musyawarah Wali Sanga di Tuban, Syarif Hidayatullah ditunjuk untuk menggantikan pimpinan Wali Sanga. Akhirnya pusat kegiatan Wali Sanga dipindahkan dari Tuban ke Gunung Sembung di Carbon yang kemudian disebut puser bumi sebagai pusat kegiatan keagamaan, sedangkan sebagai pusat pemerintahan Kesulatan Cirebon berkedudukan di Keraton Pakungwati dengan sebutan GERAGE. Pada Tahun 1479 Masehi, Syarif Hidayatullah yang lebih kondang dengan sebutan Pangeran Sunan Gunung Jati menikah dengan Nyi Mas Pakungwati Putri Pangeran Cakrabuana dari Nyai Mas Endang Geulis. Sejak saat itu Pangeran Syarif Hidayatullah dinobatkan sebagai Sultan Carbon I dan menetap di Keraton Pakungwati. Sebagaimana lazimnya yang selalu dilakukan oleh Pangeran Cakrabuana mengirim upeti ke Pakuan Pajajaran, maka pada tahun 1482 Masehi setelah Syarif Hidayatullah diangkat menajdi Sulatan Carbon membuat maklumat
kepada Raja Pakuan Pajajaran PRABU SILIWANGI untuk tidak mengirim upeti lagi karena Kesultanan Cirebon sudah menjadi Negara yang Merdeka. Selain hal tersebut Pangeran Syarif Hidayatullah melalui lembaga Wali Sanga rela berulangkali memohon Raja Pajajaran untuk berkenan memeluk Agama Islam tetapi tidak berhasil. Itulah penyebab yang utama mengapa Pangeran Syarif Hidayatullah menyatakan Cirebon sebagai Negara Merdeka lepas dari kekuasaan Pakuan Pajajaran. Peristiwa merdekanya Cirebon
keluar dari kekuasaan Pajajaran
tersebut, dicatat dalam sejarah
tanggal Dwa Dasi Sukla Pakca Cetra
Masa Sahasra Patangatus Papat
Ikang Sakakala, bertepatan dengan 12 Shafar 887 Hijiriah atau 2 April 1482 Masehi yang sekarang
diperingati sebagai hari jadi
Kabupaten Cirebon

kereta singa barong(cirebon)

CIREBON – Atom CIREBON ‹ › Beranda Lihat versi web Esa Davesa Kereta Singa Barong Kereta Singa Barong yang sampai kini masih terawat bagus itu, merupakan refleksi dari persahabatan dengan bangsa- bangsa. Wajah kereta ini merupakan perwujudan tiga binatang yang digabung menjadi satu, gajah dengan belalainya, bermahkotakan naga dan bertubuh hewan burak. Belalai gajah merupakan persahabatan dengan India yang beragama Hindu, kepala naga melambangkan persahabatan dengan Cina yang beragama Buddha, dan badan burak lengkap dengan sayapnya, melambangkan persahabatan dengan Mesir yang beragama Islam. Kereta ini original buatan para ahli kereta Keraton Kacirebonan. Ini penggambaran bahwa pengetahuan teknologi orang Cirebon tempo dulu cukup tinggi. Ini sekaligus merupakan kelebihan Kerajaan Cirebon dibanding keraton-keraton sebelumnya atau sesudahnya, yang mengimpor kereta dari Inggris, Belanda, atau Perancis. Kereta ini cukup layak dalam segi teknologi kereta yang merupakan titihan (kendaraan) raja-raja. Singa Barong telah mengenal teknologi suspensi dengan menyusun per(pegas) lempengan besi yang dilapisi karet-karet pada empat rodanya. Dengan teknologi suspensi ini, di samping kereta bisa merasa empuk, badan kereta juga bisa bergoyang-goyang ke belakang dan ke depan. Bergoyangnya tubuh kereta ke depan dan ke belakang bisa membuat sayap kereta bergerak- gerak. Itu sebabnya jika kereta ini berjalan, binatang bertubuh burak, berkepala gajah, dan bermahkota naga itu tampak seperti terbang. Terlihat megah ketika sang raja sedang berada dalam kereta itu. Kereta ini dibuat oleh seorang arsitek kereta Panembahan Losari dan pemahatnya Ki Notoguna dari Kaliwulu. Pahatan pada kereta itu memang detail dan rumit. Mencirikan budaya khas tiga negara sahabat itu, pahatan wadasan dan megamendung mencirikan khas Cirebon, warna- warna ukiran yang merah-hijau mencitrakan khas Cina. Tiga budaya (Buddha, Hindu, dan Islam) itu menjadi satu digambarkan prinsip trisula dalam belalai gajah. Tri berarti tiga, dan sula berarti tajam. Artinya, tiga kekuatan alam pikiran manusia yang tajam yaitu cipta, rasa, dan karsa. Cipta, rasa, dan karsa dimaksudkan sebagai kebijaksanaan berasal dari pengetahuan yang dijalankan dengan baik. Kereta ini dulu digunakan oleh raja untuk kirab keliling Kota Cirebon tiap tanggal 1 Syura atau 1 Muharram dengan ditarik empat kerbau bule. Penggunaan kereta untuk kirab yang berlangsung setahun sekali itu berlangsung turun-temurun, mulai Panembahan Ratu Pakungwati I (1526-1649). Kereta ini baru berhenti digunakan untuk kirab tahun 1942, karena kondisinya yang sudah tidak memungkinkan lagi. Kereta itu kini tersimpan di museum kereta yang terletak di sisi bangunan Taman Dewandaru Keraton Kasepuhan Cirebon. Kereta ini benar-benar tidak diperbolehkan lagi keluar, dalam acara apa pun, selain dibersihkan setiap bulan Syura atau Muharam. Bahkan, ketika dilakukan pameran antarkeraton se- Indonesia di Cirebon beberapa tahun lalu, yang dipamerkan adalah duplikat kereta yang bentuk maupun rupanya mirip. Kereta Singa Barong menunjukkan ketulusan seorang raja seperti Panembahan Ratu Pakungwati I, raja keempat Kesultanan Cirebon itu. Karya untuk pribadi, seperti kereta itu, tidak direka dengan semata-mata imaji selera, tetapi juga didasarkan pada rasa. Rasa persahabatan dengan bangsa lain yang begitu melekat dihatinya dimanifestasikan dalam bentuk kereta itu.