makam sunan gunung jati cirebon

Makam Sunan Gunung
Jati, Cirebon Sunan Gunung Jati adalah salah satu dari sembilan orang penyebar agama Islam terkenal di Pulau Jawa yang dikenal dengan sebutan Wali Sanga. Kehidupannya selain sebagai pemimpin spriritual, sufi, mubaligh dan dai pada jamannya juga sebagai pemimpin rakyat karena beliau menjadi raja di Kasultanan Cirebon, bahkan sebagai sultan pertama Kasultanan Cirebon yang semula bernama Keraton Pakungwati. Memasuki kompleks pemakaman anda akan melihat Balemangu Majapahit yang berbentuk bale-bale berundak yang merupakan hadiah dari Demak sewaktu perkawinan Sunan Gunung Djati dengan Nyi Mas Tepasari, putri dari Ki Ageng Tepasan, salah seorang pembesar Majapahit. Masuk lebih kedalam anda akan melihat Balemangu Padjadjaran, sebuah bale-bale besar hadiah dari Prabu Siliwangi sebagai tanda penghargaan pada waktu penobatan Syarif Hidayatullah sebagai Sultan Kasultanan Pakungwati (cikal bakal kraton di Cirebon). Makam Sunan Gunung Jati yang terletak di bukit Gunung Sembung hanya boleh dimasuki oleh keluarga Kraton sebagai keturunannya selain petugas harian yang merawat sebagai Juru Kunci-nya. Selain dari orang- orang yang disebutkan itu tidak ada yang diperkenankan untuk memasuki makam Sunan Gunung Jati. Alasannya antara lain adalah begitu banyaknya benda-benda berharga yang perlu dijaga seperti keramik-keramik atau benda- benda porselen lainnya yang menempel ditembok-tembok dan guci-guci yang dipajang sepanjang jalan makam. Keramik-keramik yang menempel ditembok bangunan makam konon dibawa oleh istri Sunan Gunung Djati yang berasal dari Cina, yaitu Putri Ong Tien. Banyak keramik yang masih sangat baik kondisinya, warna dan design-nya sangat menarik. Sehingga dikhawatirkan apabila pengunjung bebas keluar-masuk seperti pada makam-makam wali lainnya maka barang-barang itu ada kemungkinan hilang atau rusak. Ada 9 pintu yang terdapat dalam Makam Sunan Gunung Jati, yaitu 1)Pintu Gapura, 2)Pintu Krapyak, 3)Pintu Pasujudan, 4)Pintu Ratnakomala, 5)Pintu Jinem, 6)Pintu Rararoga, 7)Pintu Kaca, 8)Pintu Bacem dan 9)Pintu Teratai. Para pengunjung atau peziarah hanya diperkenankan masuk sampai di pintu ke-5 saja. Para peziarah di Makam Sunan Gunung Jati hanya diperkenankan sampai dibatas pintu serambi muka yang pada waktu-waktu tertentu dibuka dan dijaga selama beberapa menit kalau-kalau ada yang ingin menerobos masuk. Dari pintu yang diberi nama Selamat Tangkep itu terlihat puluhan anak tangga menuju Makam Sunan Gunung Jati. Para peziarah umum diharuskan masuk melalui gapura sebelah Timur dan langsung masuk pintu serambi muka untuk berpamit kepada salah seorang Juru Kunci yang bertugas. Setelah diijinkan maka peziarah umum dapat menuju ke pintu barat yaitu ruang depan Pintu Pasujudan. Uniknya didalam kompleks makam Sunan Gunung Jati terdapat kompleks makam warga Tionghoa dibagian barat serambi muka yang dibatasi oleh pintu yang bernama Pintu Mergu. Lokasinya disendirikan dengan alasan agar peziarah yang memiliki ritual ziarah tersendiri seperti warga Tionghoa tidak akan terganggu dengan ritual ziarah pengunjung makam.Makam Sunan Gunung Jati dibersihkan tiga kali seminggu dan selalu diperbaharui dengan rangkaian bunga segar oleh Juru Kunci yang bertugas. Penggantian bunga dilakukan setiap hari Senin, Kamis dan Jumat. Pada hari Senin dan Kamis petugas akan masuk dari pintu yang disebut dapur Pesambangan, sedangkan pada hari Jumat petugas akan masuk dari pintu tempat masuknya peziarah disiang hari. Jumlah petugas Makam Sunan Gunung Jati seluruhnya ada 108 orang yang terbagi dalam 9 kelompok masing-masing 12 orang berjaga-jaga secara bergiliran selama 15 hari yang diketuai oleh seorang Bekel Sepuh dan Bekel Anom (merupakan tambahan setelah Kraton Cirebon dipecah menjadi Kraton Kasepuhan dan Kanoman). Mereka yang mengemban tugas tersebut umumnya karena meneruskan tugas dari ayah atau saudara yang tidak mempunyai anak atau bisa juga karena mendapat kepercayaan dari yang berhak. Pada saat mereka diberi amanat mengemban tugas itupun ada serangkaian upacara atau selametan yang harus dilakukan oleh masing-masing orang. Seluruh petugas makam termasuk para Bekel dipimpin oleh seorang Jeneng yang diangkat oleh Sultan. Adapun riwayat dibalik jumlah 108 berawal dari Pemerintahan Sunan Gunung Jati di Kraton Pakungwati yang pada suatu hari menangkap perahu yang terdampar dengan seluruh penumpang berjumlah 108 orang seluruhnya berasal dari Keling (Kalingga) dan berada dibawah pimpinan Adipati Keling. Orang- orang Keling ini kemudian menyerahkan diri dan mengabdi kepada Sunan Gunung Jati dan dipercaya untuk menetap dan menjaga daerah sekitar pemakaman sampai ke anak cucu. Sebagian masyarakat yang bermukim disekitar kompleks makam adalah keturunan orang- orang Keling tersebut. Oleh karena itu ke-12 orang yang bertugas tersebut mengemban tugas sesuai dengan jenjangnya sebagai awak perahu nelayan seperti juru mudi, pejangkaran dan lain sebagainya. Selain Sultan dan Juru Kunci yang ditunjuk maka tidak ada lagi orang yang diperkenankan masuk ke makam Sunan Gunung Jati. Konon di sekitar makam Sunan Gunung Jati terdapat pasir Malela yang dibawa langsung dari Mekkah oleh Pangeran Cakrabuana. Pasir ini tidak diperbolehkan dibawa keluar dari kompleks pemakaman. Para Juru Kunci sendiri diharuskan membersihkan kaki-nya sebelum dan sesudah dari makam agar tidak ada pasir yang terbawa keluar. Pelarangan ini sesuai dengan amanat dari Pangeran Cakrabuana sendiri, mungkin karena pada jaman dahulu upaya untuk membawa Pasir Malela dari Mekkah ke kompleks pemakaman teramat berat dan sulit. Tak jauh dari bangunan makam terdapat masjid yang diberi nama Masjid Sang Saka Ratu atau Dok Jumeneng yang konon dulunya digunakan oleh orang-orang Keling yang pernah memberontak pada Sunan Gunung Jati. Didalam masjid kita bisa melihat Al-Quran yang berusia ratusan tahun dan dibuat dengan tulisan tangan (bukan cetakan mesin). Ada beberapa sumur disekitar bangunan masjid, yaitu Sumur Kemulyaan, Sumur Djati, Sumur Kanoman dan Sumur Kasepuhan. Masjid ini sendiri memiliki 12 orang Kaum yang pengangkatannya melalui prosedur Kesultanan dengan segala tata cara dan tradisi lama yang masih dijalankan. Ke-12 orang tersebut terdiri dari 5 orang Pemelihara, 4 orang Muadzin, 3 orang Khotib ditambah dengan seorang penghulu atau Imam. Kecuali penghulu mereka bertugas secara bergilir setiap minggu dengan formasi 1 orang pemelihara, 1 orang Muadzin dan 1 orang Khotib. Ada lagi legenda para wali yang berhubungan dengan Sumur Jalatunda yang berasal dari jala yang ditinggalkan Sunan Kalijaga saat dirinya diperintahkan mencari sumber mata air untuk berwudhu-nya para wali yang pada saat itu sedang mengadakan pertemuan. Sumur Jalatunda ini dikenal dengan Zam-zam-nya Cirebon. Mengunjungi kompleks pemakaman sunan Gunung Jati sebetulnya tidak terlalu sulit. Lokasi-nya tidak jauh dari kota Cirebon. Jalan masuknya juga bisa dilalui oleh mobil dan sudah tersedia lahan parkir yang cukup luas. Yang sangat disayangkan adalah banyaknya penduduk setempat yang meminta donasi tidak resmi kepada pengunjung atau peziarah yang datang ke makam. Dari mereka yang meminta dengan suka rela sampai dengan mereka yang menggebrak meja tempat diletakkannya kotak donasi untuk menakut-nakuti pengunjung apabila mereka menolak untuk membayar. Yang meminta donasi tidak hanya orang dewasa, melainkan anak- anak balita sampai kaum tua renta juga setia mengikuti bahkan ada yang sambil menarik-narik baju pengunjung. Macam-macam alasan yang digunakan, dari donasi untuk pemeliharaan makam sampai sumbangan sebagai ‘pembuka pintu’. Kalau anda datang bersama dengan rombongan peziarah, bersiaplah menghadapi puluhan peminta sumbangan yang sudah berbaris panjang dari parkiran anda masuk sampai ke pintu gerbang peziarah. Sangat mengesalkan sebetulnya. Pemandu memberitahu agar kami ‘jangan memulai’ memberikan donasi setiap kali diminta karena hanya akan membuat peminta donasi lain akan memburu. Walaupun kami sudah berusaha membatasi jumlah donasi yang kami keluarkan dengan terus menerus mengatakan “tidak” tetap saja kami harus merogoh kantong beberapa kali. Upaya menertibkan konon sudah pernah ada. Sultan pernah memerintahkan mereka untuk berhenti meminta donasi tidak resmi tersebut, namun seminggu-dua minggu kemudian timbul kembali. Alangkah baiknya apabila pihak Kraton yang berwenang atau pemerintah daerah mulai memikirkan cara untuk menertibkan mereka karena bisa jadi akan merusak citra tempat pemakaman sunan Gunung Jati ini dan umat muslim pada umumnya. Aktivitas meminta-minta dengan paksa yang dilakukan kaum dewasa dan orang tua akan memberikan contoh tidak baik bagi anak kecil warga sekitar. Tak heran apabila mereka nantinya juga menjadi peminta-minta. Walaupun Sunan Gunung Jati pernah bertutur “Ingsun titip tajug lan fakir-miskin” yang artinya “Aku titipkan masjid/ musholla dan fakir miskin”. Waktu Ziarah Pada malam yang dalam kosmologi Jawa dianggap paling bertuah, terdapat belasan ribu orang tumpah ruah di Kompleks Makam Sunan Gunung Jati. Puluhan bus, kendaraan pribadi, sampai sepeda motor memadati sejumlah lapangan parkir yang banyak disediakan di sekitar makam. Jalur utama Jln. Raya Cirebon- Karangampel-Indramayu dibuat macet, ratusan kendaraan ke arah Cirebon maupun Indramayu harus rela antre bila melewati kompleks makam itu. Ada sejumlah puncak kunjungan tempat peziarah memadati Kompleks Makam Sunan Gunung Jati. Selain puncak rutin setiap Jumat Kliwon, ada juga puncak kunjungan yang disatukan dengan upacara atau ritual tradisi dalam Islam. Setiap Maulid, memperingati lahirnya Nabi Muhammad saw., ada upacara tiga hari tiga malam tanggal 10, 11, dan 12 Maulid. Diisi prosesi “Panjang Jimat”, berupa arak-arakan benda-benda pusaka diiringi pengajian dan salawat nabi. Lalu ritual Grebek Syawal, dilaksanakan 7 hari setelah Idulfitri. Berupa kunjungan Sultan Cirebon (Sultan Kasepuhan, Kanoman dan Kacirebonan) dan keluarganya ke Makam Sunan Gunung Jati. Grebek Syawal merupakan kunjungan terpadat. Puluhan ribu warga biasanya tumpah ruah memadati kompleks makam untuk Ngalap Berkah atau berebut makanan yang disediakan para Sultan Cirebon dan keluarganya. Ada juga Grebek Rayagung, dilaksanakan saat Iduladha. Ritual ini hanya diikuti oleh warga sekitar makam Untuk bulan Ramadan, hanya ada satu ritual rutin, yakni pencucian “Jimat” atau benda-benda pusaka oleh para Kemit atau Bekel yang dipimpin Jeneng. Pencucian benda pusaka seperti gamelan dan seperangkat alat “pande besi” (pembuatan pedang, golok, pisau, dan sejenisnya) yang merupakan peninggalan Sunan Gunung Jati dilakukan pada Ramadan hari ke-20. Pelaksanaannya setelah waktu Salat Subuh. Pencucian untuk menyambut Nuzulul Quran. Dilakukan pagi hari Bada Subuh.

Bendera Macan Ali cirebon

BENDERA KERATON
CIREBON (MACAN ALI) “Macan Ali” adalah Bendera
sekaligus lambang Kebesaran
Keraton Cirebon, bentuknya
berupa kaligrafi arab yang
mengikuti bentuk piktogram
stilasi dari “Macan Duduk”. Sering ditemukan di Lukisan Kaca
seniman Cirebon. Di Keraton Pakungwati Cirebon (keraton awal) pernah dibentuk sepasukan khusus berjumlah 12 orang yang dapat berubah wujud menjadi macan. Keraton memberikan “jubah & Bandrang (Kepala Tombak)” sebagai tanda. Kalau mau berubah dengan memakai jubah itu, pasukan ini tidak muncul sembarangan, hanya kalau Cirebon terancam bahaya saja. Tandanya Cirebon bahaya adalah apabila “Kantil” atau Kurung Batang di Astana Gunung.Jati yang berlapis emas raib, terbang, atau bergoncang. Pasukan ini berlanjut diwariskan ke ahli warisnya sampai sekarang, konon pemunculannya hanya di bulan Mulud dan di tempat keramat yang ditunjuk. Sekarang sudah berkurang jumlahnya mungkin cuman 5 saja. Menurut cerita lain kalau bulan Mulud suka muncul di Petilasan Tapak Semar (arah barat hutan Astana Gunung Jati). Waktu ribut2 tahta di Keraton Kanoman dulu, muncul di sumur tujuh Jalatunda, menurut orang yang melihat bentuknya orang bergamis, berjalan agak merangkak lama kelamaan berkelebat jadi macan menghilang. Tiap anggota punya nama dan pangkat, diambil dari nama daerah masing2. misalnya “Ki Gedheng”. Cerita yang lain, perihal pelacakan Pasukan Khusus Macan pengawal Kraton Cirebon, bernama Singha Barwang Djalalullah yang konon kabarnya cuma tersisa 5 orang. Tidak bisa diperkirakan berapa jumlah tepatnya pasukan macan ini yang tersisa, bisa 3, 5 atau 7 orang. Yang pasti di bawah dari 10 orang. Berkurangnya pasukan ini dikarenakan beberapa hal, pertama adalah tidak mempunyai keturunan karena pasukan ini bersifat turun temurun. Kedua yang bersangkutan meninggal dengan membawa pakaian simbol pasukan macan yang disebut “Kantong Macan”. Pernah satu kejadian seekor macan di kepung dan diburu masyarakat kampung yang tidak mengerti, macan yang diburu kabur menghindar, hingga terperosok di sebuah sumur tua. sewaktu dilihat ke sumur ternyata bukan seekor macan, melainkan seorang manusia yang terkapar. Pada saat hendak diangkat orang tersebut sirna. Pakaian yang bernama Kantong Macan ini sebesar ibu jari kaki, cara memakainya dengan memasukan kedua ibu jari tangan. Anehnya kantong macan tadi terus mengembang seperti elastis hingga masuk kedalam tubuh seperti pakaian. Ritual pemakaian harus hening dan sedikit penerangan. Kekuatan spiritual dari pakaian ini tergantung si empunya, bisa 50:50 (antara manusia:siluman) atau 20:80 dan sebaliknya. Semakin tinggi tingkatannya semakin tinggi kodrati manusianya. Sejarah adanya pasukan ini bermula ketika Susuhunan Gunung Jati sebagai pendiri kratonan Cirebon, diberikan hadiah dari kakeknya yang penguasa Pajajaran (Prabu Siliwangi). Hadiah itu berupa sepasukan khusus Pajajaran yang terdiri atas 12 orang yang dapat beralih rupa sebagai macan. Sebagaimana pasukan pengamanan, metoda penggunaan Ring 1, 2 dst juga berlaku. Masing- masing ring terdiri atas 4 orang yang meliputi arah mata angin dengan titik pusatnya Kraton Pakungwati. Semakin dekat dengan pusat, semakin tinggi ilmunya. Istilah yang digunakan adalah KW (tidak tau apa maksudnya). Ada KW 1, KW 2 dst. Kabarnya satu KW pernah diberikan sultan Cirebon kepada Sultan Brunei, Hasanal Bolkiah.

data situs tiap kacamatan sekabupaten cirebon

DATA SITUS TIAP KECAMATAN
SE-KABUPATEN CIREBON I. KECAMATAN ARJAWINANGUN 1. KI KUMADI (KI GEDE BULAK) Ds.
BULAK
2. SITUS NYI RATU Ds. GAYONGAN
3. KI WASIAT Ds. JUNJANG
4. KI RUNCUM Ds.
ARJAWINANGUN 5. KI GEDE SUROPATI Ds.
RAWAGATEL
6. SUMUR KI JAKATAWA Ds.
TEGAL GUBUG
7. KI GEDE JAPULA KIDUL Ds.
JAPURA KIDUL 8. BALONG KRAMAT Ds. JAPURA
KIDUL II. KECAMTAN BABAKAN 1. SITUS BUYUT CICURI Ds.
BABAKAN
2. LINGGA YONI Ds. DOMPYONG
3. BUYUT JAKA BODOH Ds.
KARANGWANGUN
4. SUMUR KERAMAT DALAM Ds. KARANGWANGUN III. KECAMATAN BEBER 1. MAKAM SYEKH DATUL KAHFI
Ds. HALIMPU
2. BUYUT WAKJAH Ds. CIKANCET
3. BUYUT MANYANG Ds. SINDANG
KASIH
4. BUYUT SANTA MALINDA Ds. SINDANG KASIH
5. ADIPATI KINCIR Ds. SINDANG
KASIH
6. SUMUR TUJUH Ds. KONDANG
SARI IV. KECAMATAN CILEDUG 1. SUMUR KERAMAT LEUWEUNG
GAJAH Ds. LEUWEUNG GAJAH
2. VIHARA BUDHI DHARMA Ds.
CILEDUG
3. SITUS BALE KEBUYUTAN Ds.
CILEDUG WETAN V. KECAMATAN CIWARINGIN – BALE GEDE GALAGAMBA Ds.
CIWARINGIN VI. KECAMATAN TALUN – SITUS MAKAM KERAMAT TALUN
Ds. TALUN VII. KECAMATAN CIREBON
UTARA 1. MAKAM KI LAYA Ds. KLAYAN
2. ALAS KONDA Ds. JATI MERTA
3. GUNUNGJATI Ds. ASTANA
4. GUNUNG SEMBUNG Ds. ASTANA
5. MAKAM PANDERASAN Ds.
KALISAPU 6. NYI AGUNG SELA Ds.
WANAKAYA
7. LAWANG GEDE Ds.
MERTASINGA
8. MAKAM GLONDONG
PANGARENG-ARENG Ds. SIRNABAYA
9. KI GEDE MAYANG Ds. MAYUNG
10. SITUS MAKAM PAHLAWAN
TAK DIKENAL Ds. BUYUT VIII. KECAMATAN DEPOK 1. KI GEDE ANGGA SOYAG Ds.
KEDUANAN
2. BUYUT CIGOLER Ds.
KASUGENGAN LOR
3. MAKAM DAWA Ds. BETASAN
4. MESJID KERAMAT Ds. DEPOK 5. SYEKH PASIRAGA Ds. DEPOK
6. PAKUNGWATI Ds. WARUGEDE IX. KECAMATAN DUKUPUNTANG 1. BATU PRASASTI LUHU DAYEUH
Ds. CIKALAHANG
2. BUYUT DAWI Ds. BALAD
3. BATU CELEK Ds. BALAD
4. SUMUR BALAD Ds. BALAD
5. SULTAN MULYANA (PANGERAN PAPAK) Ds. BALAD
6. SUMUR JAYA Ds. BALAD X. KECAMATAN GEBANG 1. MAKAM SANTRI Ds.
MEKARSARI
2. ASTANA GEBANG ILIR Ds.
GETANG KULON
3. KERATON GEBANG Ds. GETANG
KULON XI. KECAMATAN GEGESIK 1. KI JANGKAR Ds. GEGESIK LOR
2. KI RAJA PENDITA Ds. GEGESIK
LOR
3. KI GEDE GESIK Ds. GEGESIK
KULON
4. KI PANUNGGUL Ds. GEGESIK KIDUL
5. KI WARGA Ds. GEGESIK KIDUL
6. PASANGGRAHAN Ds. GEGESIK
KIDUL
7. KI GEDE BAYALANGU Ds.
BAYALANGU 8. GERUDA Ds. GEGESIK LOR
9. PANGERAN MARSUKI Ds.
GEGESIK LOR
10. NYI LARA KELI Ds.
PANUNGGUL XII. KECAMATAN PALIMANAN 1. KI GEDE PALIMANAN Ds.
PALIMANAN BARAT XIII. KECAMATAN GEMPOL 1. BUYUT AMAD
2. SUNAN BONANG Ds. CUPANG XIV. KECAMATAN KLANGENAN 1. SUMUR KERAMAT NYI AJENG
Ds. DANAWINANGUN
2. MESJID KERAMAT KEBAGUSAN
Ds. SITIWINANGUN
3. NYI GEDE JEMARAS Ds.
JEMARAS 4. SURAWANA BAGO DUA Ds.
BANGO DUA
5. BUYUT JAKA Ds. SERANG
6. BUYUT SERANG Ds. SERANG
7. NYI ENDANG GEULIS Ds.
DANAWINANGUN 8. KI GEDE REKATINGAN Ds.
REKATINGAN XV. KECAMATAN KAPETAKAN – SYEKH MAGELUNG SAKTI Ds.
KARANG KENDAL XVI. KECAMATAN KELIWEDI 1. KI GEDE KALIWEDI Ds.
KALIWEDI
2. KI MADUN JAYA Ds. GUWA XVII. KECAMATAN KEDAWUNG 1. BALONG TUK Ds.
KERTAWINANGUN
2. SYEKH MAJAGUNG Ds.
KEDUNGJAYA
3. BRAMASARI Ds. KEDUNGJAYA
4. PANGERAN AKMAD PANJI Ds. KALIKOA XVIII. KECAMTAN KARAN
SEMBUNG 1. BUYUT NURYADI Ds.
KALIMEANG
2. BUYUT KADIS Ds. KALIMEANG
3. BUYUT MAYAGIRI Ds.
KARANGMEKAR
4. BUYUT DJAISEM Ds. KARANGSEMBUNG
5. ARUMAN Ds. KALIMEANG
6. ASTANA PALIYANGAN Ds.
KARANGMALANG
7. MBAH BUYUT MAINEM Ds.
KARANGMALANG XIX. KECAMATAN LEMAHABANG 1. CILAMPAYAN Ds. PICUNG
PUNGUR
2. MAKAM MBAH BUYUT MUQOYIM
Ds. TUK
3. MBAH BUYUT PANGERAN ARDI
SELA Ds. TUK 4. MBAH KUWU CIREBON/
TALAPAK/ PATILASAN Ds.
SINDANGLAUT
5. SINDANG PANCURAN Ds. TUK XX. KECAMATAN LOSARI 1. KI BUYUT MERTASARA (BUYUT
PASALEMAN) Ds. MULYASARI
2. JAMI AL QAROMAH Ds.
MULYASARI
3. PANGERAN DEKEN Ds. BARISAN XXI. KECAMATAN MUNDU 1. PANGERAN RAJA MUHAMAD
Ds. LUWUNG
2. PANGERAN BRATA KELANA Ds.
MUNDU GESIT XXII. KECAMATAN PABEDILAN
1. MAKAM BATISARI Ds.
PABEDILAN
2. BUYUT GAMENG Ds. BABAKAN
LOSARI XXIII. KECAMATAN PABUARAN 1. NYI RANDAH KASIH Ds.
SOKADANA
2. KEDUNG OLENG Ds.
HULUBANTENG
3. MBAH BUYUT SODIKIN Ds.
HULUBANTENG 4. MESJID BAITURROHIM Ds.
SUKADANA XXIV. KECAMATAN PALIMANAN 1. BUYUT HASAN BASARI Ds.
KEPUH
2. BUYUT KI BRAJA UNGKARAN
Ds. PANGENAN
3. SUMUR CIRAWAT Ds. KEPUH
4. BUYUT PETABON GUNUNG GIWUR Ds. KEPUH
5. KI BUYUT JOHAR Ds.
BALERANTE
6. PANCURAN DARIS Ds.
BALERANTE
7. MESJID PANONGAN Ds. PANONGAN XXV. KECAMATAN PENGURAGAN 1. PANGERAN SURYANEGARA Ds.
LEMAH AMBA
2. BALONG KRAMAT Ds.
PANGURAGAN LOR
3. PANGERAN JAGABAYAN Ds.
PENGRAGAN LOR 4. KI BLUWUK Ds. PANGURAGAN
LOR
5. NYI MAS GADING RONGGENG Ds.
KALIANYAR
6. MAKAM PANDAWA Ds.
KALIANYAR 7. SUMUR KEJAYAN Ds.
PANGURAGAN LOR
8. LUMBUNG PADI Ds.
PENGURAGAN
9. NYI MAS RATU GANDASARI Ds.
PANGURAGAN XXVI. KECAMAAN PASALEMAN 1. PATILASAN PANGERAN
WALANGSUNGSANG Ds. TONJONG
2. KI BUYUT RANGGA KEMAYANG
Ds. TONJONG
3. SUMUR KERAMAT JAPURA LOR
Ds. JAPURA LOR XXVII. KECAMATAN PANGENAN 1. KI GEDE JAPURA LOR Ds.
JAPURA LOR
2. BUYUT LAGGENG Ds. RAWA
URIP XXVIII. KECAMATAN PLUMBON 1. NYI MAS GANDASARI Ds. BODE
LOR
2. PANGERAN PURBAYA Ds.
PURBAYA
3. SYEKH HAJI ABDULATIF Ds.
MARIKANGEN 4. SUMUR GAMBIRAN Ds.
CENGKUANG XXIX. KECAMATAN PLERED 1. KI BUYUT TRUSMI Ds. TRUSMI
WETAN
2. DANALAYA Ds. TEGALSARI XXX. KECAMATAN SUSUKAN 1. NYI MAS PANDANSARI Ds.
JATIANOM
2. KI PADAMARAN Ds.
KEDONGDONG
3. MAKAM GAMAN/ MAKAM
DAWA Ds. KEDONGDONG 4. KI BOGO Ds. UJUNG GEBANG
5. NYI BUYUT UJUNG GEBANG Ds.
UJUNG GEBANG
6. NYI MAS JUNTI Ds. UJUNG
GEBANG
7. KI TAMBAK Ds. UJUNG GEBANG 8. NYI WARJA Ds. UJUNG GEBANG
9. KI SELAPADA Ds. BUNDER
10. BUYUT ADIPATI GELONG Ds.
JATI ANOM XXXI. KECAMATAN SUSUKAN
LEBAK 1. BATU TULIS HURUF CINA Ds.
CIAWIJAPURA
2. SITUS TAMPIAN Ds. WILULANG
3. MBAH NURKALAM Ds. SUSUKAN
LEBAK XXXII. KECAMATAN SEDONG
1. NYI MAS PAKUNGWATI Ds.
PUTAT
2. SYEKH ABDUL KAHFI Ds. PUTAT
3. BUKIT PASIR IPIS Ds. SEDONG
KIDUL XXXIII. KECAMATAN SUMBER 1. BALONG SUMBER KELURAHAN
SUMBER
2. SITUS PASALAKAN
KELURAHAN SUMBER
3. PLANGON KELURAHAN
BABAKAN 4. PANGERAN PASAREAN
KELURAHAN GEGUNUNG
5. WATA SEMAR KELURAHAN
BABAKAN XXXIV. KECAMATAN TENGAH
TANI 1. MAKAM BUYUT MUJI Ds.
DAWUAN
2. MAKAM BUYUT GESIK Ds. GESIK
3. MAKAM KI LAMAYAN Ds.
DAWUAN XXXV. KECAMATAN WALED 1. MAKAM KI BUYUT ROPISA Ds.
CIKULAK
2. SITUS SELA SUTAJAYA Ds.
WALED KOTA
3. SUMUR SELA Ds. CIKULAK KIDUL XXXVI. KECAMATAN WERU 1. MEGU GEDE Ds. MEGU GEDE
2. BALE GEDE Ds. MEGU CILIK
3. DANALAYA Ds. TEGAL SARI

sejarah Telaga remis

Menurut cerita yang berkembang
secara lisan, asal muasal hutan
Wisata Talaga Remis terkait
dengan sejarah Kesultanan Cirebon. Sultan yang berkuasa di Cirebon pada waktu itu ialah Sultan Giri Laya. Sang Sultan
mempunyai seorang puteri yang
cantik jelita, bernama Ratna
Pandan Kuning. Ratna Pandan
Kuning adalah satu-satunya
keturunan Sultan, calon penerus tahta Kesultanan Cirebon . Sang Puteri menarik beberapa
kalangan untuk meminangnya,
namun beberapa kali pinangan
selalu ditolaknya sehingga
membuat Sultan kebingungan,
apalagi ditengah situasi yang tidak kondusif sedang terjadi
pertentangan antara Kesultanan Cirebon dan Kesultanan Mataram . Sebenarnya Sultan mempunyai
jagoan yang dipersiapkan sebagai
calon menantunya yaitu Elang
Drajat putra dari Banjar Melati.
Dia adalah orang kepercayaan
Sultan yang menjadi tameng pertamanya. Sehingga agar tidak
terjadi kecemburuan dari orang
yang telah meminang Puteri dan
setiap orang merasakan keadilan,
Sultan Giri Laya mengadakan
sayembara percobaan perang. Siapapun yang bisa mengalahkan
Elang Drajat, akan dijadikan
menantu Sultan Giri Laya atau
Dalem Cirebon. Pada waktu itu Sultan Cirebon
memindahkan pusat
pemerintahan ke Matangaji,
hingga Sang Sultan terkenal
dengan sebutan Sultan Matangaji,
Daerah kekuasaan Sultan Matangaji meliputi daerah
Kabupaten Kuningan, Kabupaten Majalengka dan Kabupaten Indramayu . Sultan Matangaji setiap tahunnya harus membayar
upeti kepada Sultan Mataram yaitu Sultan Agung yang merupakan keturunan dari Amangkurat II . Sementara itu di wilayah lain ada
seorang pemuda bernama Elang
Sutajaya berniat berangkat
menuju Cirebon didampingi pawongan Ki Lurah Bango
dengan membawa keris pusaka
yang bernama Keris Sekober
untuk membantu Pangeran
Selingsingan di Pakemitan
Gedong Silarandenog. Namun setelah sampai di Keraton Cirebon
ternyata keraton sudah
dikosongkan. Perjalanannya pun
dilanjutkan untuk mencari Sang
Sultan. Elang Sutajaya akhirnya bertemu
dengan Sultan yang kini berada
di Matangaji. Pada saat itu Sultan
sedang bermusyawarah dengan
putrinya dalam mengadakan
syaembara. Elang Sutajaya kemudian bertemu dengan Putri
Ratna Pandan Kuning, Putri
Matangaji tersebut tertarik oleh
ketampanan dan kesopanan
Elang Sutajaya. Setelah bercakap-
cakap dengan Sultan Matangaji, Elang Sutajaya mengemukakan
maksudnya untuk bertugas
kemit atau juru kunci di Gedong
Silaradenok membantu Pangeran
Selingsingan. Sepeninggalnya
Elang Sutajaya putri Matangaji menangis tiada hentinya. Sultan
Matangaji mengerti akan maksud
putrinya yang mencintai Elang
Sutajaya. Kemudian Elang Sutajaya datang
kembali ke Matangaji, Putri Ratna
Pandan Kuning sangat senang
dengan kedatangannya dan
mengutarakan keinginanya
kepada Sultan agar menyetujuinya untuk menikah
dengan Elang Sutajaya. Sultan
Matangaji tidak keberatan
dengan syarat Elang Sutajaya
bisa mengalahkan prajurit-
prajurit Banjar Melati yang dipimpin oleh Elang Drajat.
Spontan saja Elang Sutajaya
menyanggupinya hingga
terjadilah pertarungan antara
Elang Sutajaya dengab prajurit-
prajurit banjar Melati. Secepat kilat anak buah Banjar Melati
dipatahi oleh Elang Sutajaya,
sehingga ratusan prajurit banjar
melati menjadi tumbuh-
tumbuhan. Sultan Matangaji bermaksud
membatalkan membayar upeti
ke kerajaan Mataram, sementara
itu Pangeran Purbaya dari
Mataram menuju ke Cirebon bermaksud untuk menagih upeti.
Di kaki Gunung Slamet rombongan Pangeran Purbaya
bertemu dengan rombongan
Pangeran Selingsingan. Terjadilah
peperangan yang seru dan
memakan korban yang cukup
banyak dari kedua belah pihak. Peperangan tiada hentinya, maka
Sultan Matangaji memanggil
mantunya Elang Sutajaya untuk
membantu perang menumpas
Pangeran Purabaya. Elang
Sutajaya dalam mencari jejak Pangeran Selingsingan sampai di
desa dukuh Puntang kecamatan
Sumber. Diketahui peperangan
sedang berjalan sengit dan seru
antara Pangeran Purabaya dan
Pageran Selingsingan. Pangeran Selingsingan mundur terus ke
Desa Cikalahang, desa Mandala
sampai ke Desa Kaduela
Kecamatan Mandirancan Kabupaten Kuningan. Saking sedihnya Pangeran Selangsingan
menangis karena perperangan
tiada akhirnya. Air matanya
jatuh ke tanah hingga terjadilah
kolam Nilam yang letaknya
disebelah Talaga Remis. Akhirnya Elang Sutajaya
bertemu dengan Pangeran
Purabaya lalu beradu ilmu
kesaktian, Pangeran Purabaya
terdesak dan berhasil dikalahkan.
Pengeran Purabaya berkata “Wahai Elang Sutajaya tolonglah
aku diberi pengampunan, jangan
bunuh aku karena aku adalah
manusia biasa yang beragama”,
Elang Sutajaya menjawabnya
“Kamu bukan manusia yang baik, beberapa tahun kamu
berperang dengan Pangeran
Selingsingan sedangkan kamu
manusia yang mengerti sebagai
mahluk sosial yang harus hormat
menghormati, tolong menolong dan bantu membantu. Itulah arti
hidup manusia, bukan untuk
saling membunuh”. Elang
Sutajaya meneruskan petuahnya
bahwa sebagai umat beragama
tidak boleh membuat kekacauan dan kejahatan dalam hidup
bermasyarakat dan bernegara. Setelah selesai mendengarkan
petuah Elang Sutajaya Pangeran
Selingsingan menangis tidak ada
henti-hentinya dari air matanya
hingga menjelmalah menjadi
kolam Talaga Remis. Begitupun Pangeran Purabaya menangis dan
akhirnya Pangeran Purabaya
berubah wujud menjadi seekor
Bulus atau kura-kura. Bulus
tersebut diberi nama Si Mendung
Purbaya. Bentuk bulus atau kura- kura itu mempunyai bentuk lain dari yang lain.

Asal usul waduk darma dan darma loka

ASAL-USUL DARMA (WADUK
DARMA DAN DARMA LOKA) Alkisah desa Darma pada
mulanya bukanlah merupakan
desa, namun saat itu tak lebih
sekedar suatu tempat yang
dijadikan sebagai pos
pertahanan kerajaan Islam Cirebon, untuk menyerang
kerajaan Galuh Talaga dan
kerajaan Galuh Ciamis. Peperangan antara kerajaan
Islam Cirebon dengan kerajaan
Galuh Talaga telah berlangsung
selama kurun waktu 5 tahun
sebanyak 5 kali pertempuran.
Diperkirakan terjadi mulai tahun 1528 M dan pada
pertempuran terakhirlah pos
desa Darma didirikan oleh
kerajaan Islam Cirebon. Dalam peperangan tersebut
segenap kekuatan kerajaan
Islam di nusantara seperti
kerajaan Islam dari Sumatera,
Malaka, Banten dan Dari Demak
oleh kerajaan Cirebon (Syeh Syarip Hidayatullah) di
kerahkan untuk memerangi
kerajaan Galuh Talaga,
sehingga pada peperangan itu
kemenangan dapat di raih oleh
kerajaan Islam Cirebon. Pada peperangan terakhir,
kerajaan Islam Cirebon selain
berperang dengan kerajaan
Galuh Talaga juga berperang
dengan kerajaan Galuh Ciamis,
namun menurut cerita sebelum kerajaan Islam Cirebon
menyerang kerajaan Galuh
Ciamis, kerajaan Galuh Ciamis
(masih satu keturunan dengan
kerajaan Galuh Talaga) telah
menyerah pada kerajaan Islam Cirebon, dan berikrar bahwa
kerajaan Galuh Ciamis tidak
akan mengganggu dan
menyerang kerajaan Islam
Cirebon, namun sebagai
tindakan antisipasi kerajaan Islam Cirebon tetap membuat
pos pertahanan daerah di situ
Panjalu Ciamis (Situ Lengkong). Diperbatasan kerajaan Galuh
Talaga dengan kerajaan
Cirebon, serangan pasukan
Prabu Jaya Diningrat dari
kerajaan Galuh Talaga dihadang
oleh pasukan Adipati Kuningan Suraga Jaya, sang Suraga Jaya
merupakan putra dari Ki
Gedeng Luragung (Jaya Raksa)
anak angkat Arya Kamuning
(Barata Wijaya) yang
ditugaskan oleh kerajaan Cirebon agar melindungi
pesantren-pesantren yang
berada di perbatasan kerajaan
Cirebon dengan kerajaan Galuh
Talaga. Pada masa peperangan terakhir
sekitar tahun 1700 M. Pasukan
Putra Sri Baduga Maha Raja
(Haji Abdulah Imam) dengan
pasukan putra Prabu Ningrat
Kancana (Prabu Jaya Diningrat) yang dipimpin oleh Haji
Abdulah Imam dan Fadilah
Khan serta dibantu oleh
kerajaan-kerajaan Islam
lainnya termasuk Wadya Balad
dari pos pertahanan desa Darma dikerahkan untuk
menyerang ke kerajaan Galuh
Talaga. pada saat itu pos
pertahanan desa Darma yang
dipimpin oleh seorang ulama
dari Malaka yaitu Syeh Datuk Kaliputah (Embah Damar
wulan), beliau salah seorang
Syeh utusan kerajaan Islam
Cirebon. Suatu hari Syeh Datuk
Kali Putah kedatangan utusan
dari kerajaan Islam Cirebon yaitu Syeh Rama Haji Irengan
dengan membawa pesan: “Katakan pada Syeh Datuk
Kaliputah, bahwa kerajaan
Islam Cirebon saat ini
mendapat ancaman dari
kerajaan Galuh Talaga dan
kerajaan Galuh Ciamis.” Pesan itu pun disampaikan oleh
Syeh Rama Haji Irengan kepada
Syeh Datuk Kali Putah (Embah
Damar Wulan). Akhirnya Syeh
Datuk Kali Putah menyiapkan
pasukan untuk ikut menyerang kerajaan Galuh Talaga yang
dipimpin oleh Syeh Habibullah
(Embah Sapu Jagat) dengan
pasukan lainnya, yaitu Embah
Buyut Rangga Jaya, Embah
Buyut Rangga Wisesa, Embah Buyut Rangga Wisempek, dan
Embah Buyut Sudamelawi.
Kelima utusan tersebut menuju
suatu tempat yang berbatasan
langsung dengan kerajaan
Galuh Talaga dengan jarak dari desa Darma kurang lebih enam
puluh kilometer naik turun
gunung yang hutannya masih
perawan yaitu di Kaki Gunung
Gede (Gunung Ciremai),
tepatnya di Gunung Pucuk. Pasukan tersebut menyerang
pasukan Galuh Talaga yang
mencoba menyusup ke
kerajaan Cirebon melalui kaki
Gunung Gede (Gunung Ciremai). Pertempuran pun berlangsung
cukup sengit, semua kesaktian
dari para tokoh dikerahkan
bahkan berlangsung cukup
lama, enam bulan lamanya.
Namun berkat kegigihan dan kedigjayaan para pasukan
kemenangan dapat diraih oleh
kerajaan Islam Cirebon.
Akhirnya kelima tokoh
tersebut selesai perang tidak
semuanya kembali ke Darma, namun mereka ada yang
menetap di kaki gunung
Ciremai, ada pula yang
menetap di Situ Sanghiang dan
ada yang kembali ke desa
Darma, yaitu Syeh Habibullah (Embah Sapu Jagat). Sepulangnya dari peperangan
Embah Sapu Jagat menetap di
suatu tempat hingga beliau
wafat, yaitu di dusun Gunung
Luhung. Nama kampung
Gunung Luhung di ambil dari salah satu karomah yang
dimiliki oleh Syeh Habibullah
(Embah Sapu Jagat) karena
kepandaiannya, luhung artinya
pintar/sakti, namun karena
takut dianggap terlalu sombong, akhirnya diganti
nama Gunung Luhung menjadi
Gunung Luhur. Kira-kira pada tahun 1732 M.
Darma sudah mulai dihuni oleh
masyarakat dengan budaya
dan pengaruh diambil dari
kerajaan Galuh Talaga yang
menganut agama Hindu. hal ini dibuktikan dengan sisa-sisa
peninggalan sejarah baik
seperti cerita Lutung Kasarung
yang berlokasi di desa Karang
Sari, desa Gunung Sirah,
maupun peninggalan berupa material atau puing-puing
bekas bangunan dan candi yang
ditemukan di daerah Sagara
Hiang. Darma merupkan daerah yang
berada di selatan pegunungan
Ciremai dengan kondisi alam
yang sangat indah, menghijau
amparan persawahan cukup
luas, mata air mengalir dengan jernihnya, sungai berkelok
mengitari setiap kampung.
melintang dari timur ke barat
membelah kawasan waduk
Darma, sehingga menjadi salah
satu daya tarik yang luar biasa, maka dalam waktu yang cepat
Darma telah menjadi pusat
kegiatan masyarakat yang
cukup maju dan sekarang
menjadi sebuah kecamatan. Setelah pertempuran usai, Syeh
Datuk Kali Putah menempatkan
Syeh Rama Haji Irengan, beliau
adalah salah seorang Syeh dari
kerajaan Islam Cirebon dengan
perangai gagah, berani, bijak, tinggi besar dan berkulit hitam
seperti layaknya kulit-kulit
orang Cirebon dengan
kebiasaan selalu mengenakan
pakaian hitam, oleh Syeh Datuk
Kali Putah ditempatkan di salah satu Nusa yang berada di
tengah Balong Keramat Darma
loka, Selanjutnya mendirikan
sebuah pesantren (pondok
pesantren Attahiriyah Darma
Loka) dibantu oleh para syeh lainnya dengan tujuan yaitu
untuk menyebarkan ajaran
Agama Islam disekitar desa
Darma. Mengingat desa Darma semakin
hari semakin banyak jumlah
penduduknya maka Syeh Datuk
Kali Putah bersama 15 tokoh
lainnya menyebarkan agama
Islam, diantaranya 1. Eyang Hadirudin (Berasal
Dari Banten) 2. Embah Satori (Embah
Dalem Cigugur) 3. Embah Gede ( Embah
Katipan) 4. Embah Depok 5. Embah Jangka 6. Embah Braja Barong 7. Embah Raden Bagus 8. Embah Marmaganti 9. Syeh Karibullah 10. Syeh Habibullah 11. Syeh Ahmad Aruman 12. Syeh Ahmad Bin Huas 13. Syeh Drajat 14. Syeh Ibrahim 15. Embah Damar Mereka mulai merintis Darma
menjadi salah satu pusat
kegiatan para wali, sehingga
tidak sedikit para ulama
berdatangan konon datanglah
seorang ulama dari Indramayu, beliau meramalkan bahwa desa
Darma kelak akan kedatangan
seorang kiai dari arah timur
laut dan kiai tersebut akan
memakmurkan agama Islam di
desa Darma. sebelum ulama tersebut meninggalkan desa
Darma dan kembali ke
Indramayu. Beliau sempat
memberi nama desa Darma
(kata Darma berasal dari “Daru
ma’i” yang artinya Negara/ tempat air, karena desa Darma
sangat subur dengan mata air,
atau mungkin kata Darma
merupakan penggalan dari
kata Darma Ayu karena yang
memberi nama Darma berasal dari Dermayu/Indramayu.
Selanjutnya Syeh Datuk
Kaliputah menjadi pemimpin
pertama (kuwu) di desa Darma
diperkirakan tahun 1732 M.
Beliau merintis dan memimpin desa Darma dibantu oleh para
sesepuh lainnya untuk
menyebarkan agama Islam di
sekitar kecamatan Darma
dibantu oleh: 1. Embah Marmaganti
Menyebarkan Agama
Islam di Desa Gunung
Sirah 2. Syeh Ahmad Bin Huas
Menyebarkan Agama
Islam di Desa Situ Sari 3. Embah Raden Bagus
Menyebarkan Agama
Islam di Desa Kawah
Manuk 4. Embah Raja Barong
Menyebarkan Agama
Islam di Desa Cipasung 5. Syeh Ibrahim
Menyebarkan Agama
Islam di Desa Sukarasa 6. Embah Jaka Menyebarkan
Agama Islam di Desa
Paninggaran 7. Embah Satori
Menyebarkan Agama
Islam di Desa Cageur 8. Syeh Ahmad Aruman
Menyebarkan Agama
Islam di Desa Bakom. Kesemua tokoh diatas memiliki
kesaktian yang berbeda-beda,
dalam satu kisah diceritakan,
Eyang Maolani dari daerah
Lengkong Kuningan, oleh
tentara Belanda akan dibuang ke Menado dengan
menggunakan perahu layar
yang akan diberangkatkan dari
pelabuhan Cirebon, namun
karena kesaktiannya kapal
layar itu tidak bisa bergerak berangkat, namun menurut
cerita kaki Eyang Maolani yang
satu menapak di kapal
sementara kaki sebelahnya
menapak di darat, sehingga
tentara Belanda merasa heran, dan setelah bertanya kesetiap
orang pintar tentara Belanda
mendapat saran agar minta
petunjuk ke salah seorang Syeh
yang ada di desa Darma. Setibanya di desa Darma
tentara Belanda mendatangi
Syeh Karibullah mereka mohon
bantuan kepadanya, kemudian
dengan kesaktian/karomah
yang dimiliki oleh Syeh Karibullah beliau pergi ke suatu
bukit sebelah utara desa
Cikadu/ Jambar. Kemudian
beliau menatap ke arah perahu
layar yang ada di Cirebon
(sampai sekarang di daerah Cikadu/Jambar ada satu daerah
bernama “Tenjo Layar”).
Selanjutnya hanya dengan
mengebutkan sorban milik
Syeh Karibullah dari Darma,
maka kapal yang ditumpangi oleh Eyang Maolani dapat
bergerak meninggalkan
pelabuhan Cirebon menuju
Menado. Sebelum Eyang Maolani pergi
ke Manado beliau merasa sakit
hati dan dihianati oleh Syeh
Karibullah, sehingga beliau
sempat bersumpah serapah
bahwa di desa Darma kelak tidak akan berdiri pesantren
besar. Dan terbukti dari ucapan
itu sampai sekarang di
kecamatan Darma belum
berdiri pesantren yang cukup
besar, padahal di Darma tidak sedikit para kiai yang memiliki
ilmu cukup tinggi. Desa Darma benar-benar
merupakan sebuah desa yang
subur makmur lohjinawi pada
saat itu hanya terdiri dari dua
kampung yaitu kampung
Dukuh Kidul dan kampung Dukuh Kaler, kedua kampung
tersebut dibimbing oleh para
Syeh yang berasal dari Banten.
dan Cirebon. Mayoritas penduduk kampung
dukuh kidul berasal dari
keturunan Banten sedangkan
kampung Dukuh Kaler
dibimbing oleh para Syeh dari
Cirebon. dalam kehidupan sehari-hari kedua perbedaan
keturunan itu tidak menjadi
pengahalang sebab mereka
sama-sama memiliki visi dan
misi yang sama yaitu
menyebarkan agama Islam di daerah Darma dan sekitarnya. Pada mulanya desa Darma
sebagian besar masih jauh dari
ajaran agama Islam mereka
masih terpengaruh oleh paham
Animisme dan Dinamisme,
dimana setiap malam Jumat atau malam Selasa sering
tercium aroma kemenyan
untuk memuja para Dewa serta
leluhur, acara sesuguh/
nyungsum pada pohon atau
pada batu besar dan di tempat angker masih menjadi budaya
masyarakat. Pada malam hari
para pria dan wanita
berkumpul di tengah lapangan
Darma untuk menyaksikan
kesenian Tayuban, dalam acara itu secara bergantian para
penari Ronggeng mengajak
penonton untuk menari
mengitari lapangan yang sudah
siap pada setiap sudutnya
hanya diterangi dengan lampu oncor, dan sebagai imbalanya
para penari Ronggeng diberi
kepingan uang sebagai tips
yang diseliapkan pada buah
dada mereka. dengan adanya
budaya tersebut, tidak sedikit rumah tangga mereka jadi
berantakan. Melihat kondisi yang demikian
para ulama segera mengambil
langkah untuk menghentikan
kebiasaan itu, mereka
berkumpul bermusyawarah
untuk mencari jalan keluar guna menghentikan kebiasaan
maksiat yang sangat dibenci
Allah. Dan hasil dari
musyawarah itu, para penari
Ronggeng harus ditikah oleh
para tokoh dan perangkat desa. dengan cara yang seperti
itu tak lama kemudian
Kesenian Tayuban pun hilang
karena Para penari/ Ronggeng
Banyak yang ditikahi/ dimadu
oleh Tokoh Mayarakat. Kesadaran masyarakat Darma
untuk menjalankan Syariat
Islam masih sangat jauh untuk
melaksanakan Sholat Jumat
mereka harus diberi imbalan
berupa berekat (nasi bungkus), sedangkan untuk
memenuhi kebutuhan itu
secara bergiliran biayanya
dibagikan kepada tokoh
masyarakat Darma. Seiring dengan berputarnya
waktu Syeh Datuk Kali Putah
meninggal dunia.
Pemerintahan selanjutnya
dipimpin oleh Kiai Haji
Muhammad Yusuf Syapei. Dan sejak itu para syeh dan wali
mulai berkurang maka K.H.
Muhammad Yusuf Syapei
mengundang K.H. Muhammad
Tohiri dari daerah Cigugur
Kuningan agar tetap tinggal di desa Darma untuk meneruskan
pesantren Darma loka
peninggalan Syeh Rama Haji
Irengan. Sesuai dengan ramalan seorang
ulama dari Indramayu bahwa
di Darma kelak agama Islam
akan berkembang setelah
kedatangan salah seorang
ulama dari arah timur laut desa Darma, dan terbukti setelah
kedatangan KH. Muhammad
Tohiri ke Darma, agama Islam
semakin hari semakin
berkembang. Jumlah kampung di desa Darma
pada jaman para wali semula
hanya berjumlah 2 dusun,
kemudian secara bertahap
berubah menjadi 5 dusun, ke-5
dusun itu memiliki nama dan sejarah yang berbeda seperti 1. Dusun Pakuwon Berasal dari bahasa Pakuwuan
karena sebagian besar para
kepala desa berasal dari dusun
Pakuwon. Konon menurut
cerita jika kepala desa Darma
berasal dari dusun Pakuwon dia akan mampu memimpin desa
Darma dengan baik dan akan di
turut oleh rakyatnya. 2. Dusun Paleben Berasal dari kata Palebean
dimana sudah beberapa kali
ketib atau lebe berasal dari
dusun paleben. 3. Dusun Cio’ok Dahulunya ditempati oleh
orang-orang Cina. Kata Cio’ok
berasal dari bahasa Cina yang
artinya N,ci-Oo kata tersebut
merupakan panggilan untuk
memanggil paman dan bibi. Kata tersebut dalam bahasa
Cina di artikan pula Cina Galak. 4. Blok Wanacala Dahulunya mulai di buka atau
di huni oleh seorang ulama
yang berguru di daerah
Wanacala Cirebon. Selain dari
itu kata Wanacala dalam bahasa
Sansakerta yang berarti Gunung Batu yang kebetulan di
blok Wanacala dahulunya
merupakan daerah yang
berbatu. 5. Blok Wanasaba Dahulunya dihuni oleh seorang
ulama yang berguru di daerah
Wanasaba Cirebon. Dalam
bahasa Sansakerta kalimat
Wanasaba berarti gunung yang
di injak atau di datangi oleh manusia. 6. Dusun Gunung Luhur Gunung Luhur semula bernama
Gunung Luhung, karena di
daerah itu dihuni oleh salah
satu syeh Habibullah yang
memiliki ilmu yang sangat
tinggi atau Luhung, dalam bahasa Indonesia berarti
Pintar. 7. Dusun Kopeng Dahulunya di huni oleh salah
satu syeh bernama Syeh Rama
Kopeng (syeh Ahmad Aruman). Pada masa penjajahan Belanda
dan Jepang, Darma seperti
daerah lainnya melalui masa
yang sangat sulit, peradaban
penduduk sangat terbelakang,
mereka berpakaian mengenakan pakaian dari
karung goni dan dari karet.
Makanan sangat sulit di dapat,
sehingga tak sedikit
masyarakat yang mengalami
kelaparan, penyakit menular, menyebar kesetiap kampung.
Makanan sehari-hari hanya
mengandalkan bahan makanan
yang ada di sekitar desa Darma
seperti gandrung, jagung dan
singkong menjadi menu sehari- hari, selain itu, tidak sedikit
masyarakat yang hilang atau
tewas ketika ikut kerja paksa. Penduduk desa Darma sebagian
berprofesi sebagai petani tidak
bisa bebas bercocok tanam
bahan makanan pokok karena
dipaksa oleh belanda untuk
menanam jarak dan ileus, Sarana pendidikan masih
sangat jauh ketinggalan pada
masa itu, masyarakat yang
menyekolahkan anaknya hanya
dibolehkan sampai ke tingkat
kelas 3 SR. dan yang meneruskan sekolah ke tingkat
yang lebih tinggi hanya untuk
mereka dikalangan orang-
orang terpandang. Selain Belanda dan Jepang yang
datang ke desa Darma, bangsa
Tionghoa pun datang ke desa
Darma pada tahun 1898 M,
mereka menetap di Darma
dalam kurun waktu kurang lebih selama 20 tahun. Namun
kedatangan bangsa Tiong hoa
ke Darma mereka berasal dari
Cirebon dimana bangsa Cina
telah berpihak pada Belanda
berperang melawan TNI, sehingga mereka diancam dan
diusir dari Cirebon. Kedatangan bangsa Cina ke
desa Darma, mereka akan
mencari serta menampung
hasil pertanian seperti coklat
dan kopi. Kedatangan bangsa
Tiong Hoa ke Darma sedikitnya telah memberikan nilai lebih
pada masyarakat, baik untuk
sektor perekonomian maupun
pendidikan, karena setibanya
bangsa Cina di desa Darma
mereka berbaur menyatu dengan masyarakat, ada
berjualan membuka toko
klontongan, membuka pabrik
tahu dan ada pula yang
menampung hasil pertanian.
Bangsa Cina yang tergolong miskin mereka menyebar ke
desa di sekitar desa Darma
yaitu ke desa Gunung Sirah,
desa Karang Sari, dan Sakerta Setelah lama menetap di desa
Darma, mereka membuat
gudang untuk menampung
hasil pertanian kopi, coklat,
hanjeuli dan dan lainnya. Mengingat kedatangan orang
Cina ke desa Darma dengan
jumlah yang cukup banyak,
maka mereka oleh Belanda
ditetapkan di tanah Eigendom
(tanah Negara) sebelah timur lapangan Darma. Sekarang
disebut daerah Ci’ook. Untuk
mengawasi kehidupan orang-
orang Cina yang berada di desa
Darma, mereka menunjuk
salah seorang koordinatornya bernama Nio Tek Cang.
Keberadaan bangsa Tiong Hoa
Cina di desa Darma tidak terlalu
lama, mereka tidak bisa
menyesuaikan diri, mereka
banyak yang berternak babi, sementara babi bagi orang
Darma yang penduduknya
mayoritas muslim merupakan
hewan yang paling
diharamkan, sehingga mereka
diancam akan dibakar serta diusir untuk pergi
meninggalkan desa Darma. Pada zaman revolusi
perjuangan masyarakat desa
Darma dalam menghadapi
Belanda maupun Jepang, tidak
sedikit masyarakat yang
terlibat langsung, selain itu desa Darma pada jaman ini
banyak didatangi oleh para
petinggi negara seperti bapak
Umar Wirahadi Kusumah
(mantan wakil presiden RI) dan
pahlawan setingkat regional yaitu Sambas Hanapi seorang
putra asli desa Darma. Secara geografis desa Darma
berada pada titik yang sangat
strategi antara kabupaten
Kuningan, kabupaten
Majalengka dan kabupaten
Ciamis sehingga sering dijadikan tempat pertempuran
yang cukup dahsyat antara
Belanda dan TNI atau Jepang. Selain gangguan dari Belanda
dan Jepang, rakyat Jawa Barat
pernah diganggu pula oleh
gerombolan pengacau yaitu DI/
TII. Dengan adanya kejadian
itu tidak sedikit warga masyarakat yang mengalami
kerugian jiwa maupun harta
benda.Penduduk banyak yang
dibunuh dan rumah-rumah
mereka banyak pula yang
dibakar. Perjalanan desa Darma dalam
menembus waktu terakhir
dituangkan dalam satu momen
yaitu dalam acara puncak 17
Agustus 1987 masyarakat
Darma menuntut Darma dipisah dari kecamatan Kadegede dan
sekarang menjadi kecamatan
Darma. adapun alasan
pemisahan tersebut
dikarenakan masyarakat
Darma merasa kurang perhatian. Setelah peperangan dengan
kerajaan Galuh Talaga, Syeh
Rama Haji Irengan terus
menetap di Darma. Beliau
mendirikan pesantren
mendidik para santrinya dibantu oleh para Syeh lainya. Balong keramat Darma Loka
dibuat oleh Syeh Rama Haji
Irengan hanya dalam kurun
waktu satu malam dan selain
membuat kolam Darma Loka
beliau bersama para wali lainnya berhasil membuat
beberapa kolam sejenis yaitu
kolam Cigugur, Pasawahan dan
Cibulan. Adapun bentuk kolam Darma
Loka menyerupai Lafadz
Muhammad. Ada tiga mata air
yang ada di Darmaloka yaitu
mata air Cibinuang, mata air
Balong Beunteur, dan mata air Cilengkeng semuanya berasal
dari situ Sanghiang Telaga,
keanehan lain dari balong
keramat Darma Loka dari
jaman Syeh Rama Haji Irengan
baik jumlah maupun besarnya ikan tidak terlihar adanya
penambahan dan
perkembangan. Sosok Syeh Rama Haji Irengan
selain seorang Syeh beliau juga
sebagai ahli arsitektur dengan
bukti beliau berhasil menata
kolam Darma Loka dengan
demikian indahnya adapun jumlah kolam yang ada di
Darma Loka semula berjumlah
lima buah kolam diantaranya: 1. Balong Benteur 2. Balong Panyipuhan 3. Balong Ageung 4. Balong Bangsal 5. Balong Bale Kambang Kelima kolam tersebut
sebagaimana pesan almarhum
Syeh Rama Haji Irengan, baik
keberadaan maupun
bentuknya tidak boleh diubah.
Adapun ikan yang mengisi kolam keramat Darma Loka,
konon berasal dari penjelmaan
para santri atau pengikut-
pengikutnya. Melihat ada
jelmaan ikan yang tinggal
tulang belulangnya saja tetapi hidup seperti ikan-ikan
lainya .Ikan itu berasal dari
tengkorak ikan yang dimakan
oleh Syeh Rama Haji Irengan
yang dibuang kedalam kolam. Diantara sekian para santri
yang datang ke pesantren Syeh
Rama Haji Irengan, ada salah
seorang santri yang berasal
dari daerah Mataram bernama
Syeh Abdul Muhyi. kedataangan Syeh Abdul Muhyi
ke Darma (tahun 1678 M) beliau
berguru ke Syeh Rama Haji
Irengan, beliau membawa misi
dari gurunya untuk
menyebarkan agama Islam di daerah Jawa Barat. Sebagai bekal diperjalanan
serta untuk menentukan
daerah mana yang harus
dituju, beliau oleh gurunya
dibekali bibit padi untuk
ditanam didaerah tujuan adapun ciri-ciri daerah tujuan
untuk penyebaran agama Islam
Syeh Abdul Muhyi, di daerah
tersebut terdapat Gua
kemudian di daerah itu Syeh
Abdul Muhyi harus menanam padi, namun yang akan
ditanam oleh Syeh Abdul Muhyi
memiliki keistimewaan yang
sangat berbeda dengan padi
yang lain dimana padi yang
ditanam sebanyak satu butir maka padi itu akan tumbuh dan
berbuah satu butir pula
disanalah Syeh Abdul Muhyi
harus menyebarkan agam
Islam. Setibanya Syeh Abdul
Muhyi di Darma oleh Syeh Rama Haji Irengan beliau dimandikan
dibalong Panyipuhan, beliaulah
orang pertama kali
dimandikan. Syeh Abdul Muhyi
menetap berguru di Darma
diperkirakan selama tujuh tahun. Selama Syeh Abdul
Muhyi Tinggal di Darma sesuai
dengan gurunya. Beliau
menanam padi dan mencari gua
ke setiap tempat, hingga pada
satu saat beliau sampai pada sebuah bukit disebelah timur
desa Darma yang sekarang desa
Jagara. Beliau berusaha dan
mencoba untuk menanam padi
dibantu oleh rekan-rekanya,
namun padi yang ditanam oleh Syeh Abdul Muhyi berbuah satu
padi tetapi tumbuh subur
layaknya petani, bahkan
sangat melimpah, sehingga
bukit itu dinamai dengan bukit
“Geger Beas”, dalam bahasa Indonesia sama dengan geger
riuh, ramai, gempar, heboh
kejadian luar biasa. Upaya pencarian tempat untuk
menanam padi dimaksud,
beliau terus mencari ke setiap
penjuru, sehingga beliau
sampai di satu bukit di sebelah
barat desa Darma lalu beliau naik ke atas bukit itu dan
menatap kesegala penjuru
hingga saat ini bukit itu diberi
nama “Bukit Panenjoan”. Dalam
bahasa Indonesia adalah
penglihatan. Berita Syeh Abdul Muhyi
menetap di Darma terdengar
dan tercium juga oleh orang
tuanya di Mataram, sehingga
pada waktu yang tidak terlalu
lama orang tua Syeh Abdul Muhyi menyusul dan menetap
di Darma. Mengingat tujuan
Syeh Abdul Muhyi di Darma
tidak tercapai maka Syeh
Abdul Muhyi pamit kepada
Syeh Rama Haji Irengan dan kepada masyarakat Darma,
hendak meneruskan kembali
pengembaraanya untuk
menuju daerah yang
diamanatkan oleh gurunya.
Akhirnya dengan diiringi isak tangis serta doa restu baik dari
Syeh Rama Haji Irengan dan
semua penduduk desa Darma,
beliau meninggalkan Darma
menuju daerah Garut. Sebelum Waduk Darma di
bangun pada masa para wali
datang ke Darma, sudah
merupakan situ/danau kecil
dan sebagian merupakan
kawasan pesawahan dan pemukiman penduduk serta
merupakan titik temu
perbatasan antara desa Darma,
Jagara, Sakerta, Paninggaran,
Cipasung, Kawah Manuk dan
Desa Parung. Sawah terbentang dengan luasnya, aliran sungai
Cisanggarung dari selatan ke
utara, burung Bangau kuntul
datang berterbangan mencari
ikan di petak-petak sawah dan
rawa-rawa, gemercik suara air dan katak riuh memecah
keheningan daerah yang indah.
Di sebelah timur berdiri dengan
tegaknya Bukit Pabeasan, dan
sebelah barat tampak pula
Bukit Panenjoan yang membatasi kawasan kabupaten
Kuningan dengan Majalengka.
Ditengah-tengah waduk Darma
air meluap dari mata air
Cihanyir, Sebelah utara tampak
berdiri sosok keperkasaan Gunung Ciremai. Dikala para wali masih hidup
waduk darma sudah dibuat
bendungan oleh Embah Satori
(Embah dalem Cageur). Adapun
air yang dipakai untuk
mengairinya berasal dari mata air Cihanyir yang berada di
tempat di tengah waduk Darma
dan dari hulu sungai
Cisanggarung. Tujuan Embah
Dalem Cageur membuat situ
adalah untuk tempat bermain putranya yaitu Pangeran
Gencay. Dalam membuat bendungan
Embah Dalem mengerahkan
tenaga para kurawa sehingga
memerlukan jamuan yang
cukup banyak untuk menjamu
para pekerja. Konon tempat untuk menanak nasi itu, Embah
Dalem Cageur memilih salah
satu bukit yang berada di
sebelah barat desa Darma (desa
Kawah Manuk) sehingga sampai
saat ini tempat bekas menanak nasi itu diberi nama “Bukit
Pangliwetan”. Bukit Pangliwetan kini berdiri
tegak seperti onggokan tanah
yang menyerupai congcot (nasi
tumpeng) sejak dulu sampai
sekarang bukit itu masih ada
walaupun beberapa kali dirusak oleh manusia dan
digenangi air. Situ pun usai dibuatnya,
Embah Dalem membuat perahu
yang terbuat dari papan kayu
Jati dengan ukuran yang cukup
besar, perahu itu dibuat untuk
bermain anak-anaknya. Saking girangnya Pangeran Gencay
siang malam bersama rekan-
rekanya menaiki perahu,
sedangkan para penduduk
menyaksikan disekeliling situ
sambil menabuh berbagai macam gamelan. Dan konon
tempat penduduk memainkan
gamelan itu diberi nama
“Munjul Go’ong”. Takdir tak dapat dipungkir,
malang tak dapat dihadang,
pada suatu malam tepat pada
malam bulan purnama
Pangeran Gencay bersama para
pengasuhnya yang sedang bersenang-senang menaiki
perahu buatan ayahnya karam.
Jerit tangis dan ratapan tak
dapat ditahan, maka atas
perintah Embah Dalem Cageur
situ harus dibobolkan dan tidak boleh diari lagi karena
kelak akan membahayakan
anak cucu. Setelah jenajah pangeran
Gencay ditemukan lalu dibawa
kesatu tempat bernama
“Munjul Bangke” dan
jenajahnya di kuburkan di desa
Jagara. Adapun tempat tenggelamnya Pangeran
Gencay oleh penduduk di beri
nama “Labuhan Bulan” karena
perahunya tenggelam tepat
pada saat bulan Purnama. Pada zaman Belanda seluruh
tanah waduk darma dibangun
luas menjadi waduk sehingga
penduduk pergi meninggalkan
kampung halamanya pindah ke
kampung lain. Waktu terus berlalu semua
menjadi legenda menjadi mitos
dari mulut ke mulut yang pasti
sejarah tetap terukir. Para
Ulama pergi ke alam baka, para
pemimpin telah berganti namun semua karya yang
bermanfaat takkan hilang
ditelan zaman. Desa Darma yang dulu sebuah
desa yang lugu kini telah
berganti menjadi salah satu
desa yang hingar bingar
menjadi sebuah kecamatan.
Keagamaan, kebudayaan, pembangunan, perekonomian,
dan kesejahterraan,
pendidikan serta kesehatan
terus melaju.

sejarah weru plered cirebon

SEJARAH DESA WERU PLERED Sejarah Ki Gede Weru atau Ki Gede Plered menjadi kebanggaan tersendiri bagi masyarakat Plered dan keturunannya. Segala sifat, tingkah laku, sampai titah amanat Ki Gede Plered pada masa lalu, hingga kini terus dipegang dan dilestarikan oleh
masyarakat sekitar. Di masa hidupnya, Ki Gede Plered adalah tokoh yang telah mencapai derajat auliya. Disebutkan bahwa dirinya pernah berguru kepada beberapa Waliyullah Kamil, seperti: Kanjeng Sunan Syekh Siti Jenar, Eyang Embah Cakra Buana, Kanjeng Sunan Kali Jaga, dan yang terakhir kepada Kanjeng Sunan Gunung Jati. Menurut sejumlah sumber cerita, Ki Gede Plered dikaruniai seorang putra tampan bernama Pangeran Anom Weru, yang makamnya berada di Dusun Kaliandul. Namun, tak diperoleh keterangan siapakah sesungguhnya ibunda dari Pangeran Anom Weru ini. Sementara itu, ada suatu kisah
asmara menarik yang di alami oleh Ki Gede Weru alias Ki Gede Plered semasa mudanya. Disebutkan, suatu ketika dia pernah jatuh cinta pada seorang dara cantik jelita asal Dusun Kaliandul. Dara jelita itu bernama Nyai Mas Ratu Ayu Rara Kemuning. Sang gadis tidak hanya ayu rupawan, namun sekaligus juga sakti mandraguna. Namun karena kecantikannya dia menjadi rebutan kaum Adam. Banyak pangeran dan kaum bangsawan berlomba mendapatkan cinta Nyai Mas Ratu Ayu Rara Kemuning. Tak terkecuali Ki Gede Weru sendiri tergila-gila dibuatnya. Beruntunglah Ki Gede Weru. Dari sekian banyak pria yang berusaha menyunting Nyai Mas Ratu Ayu Rara Kemuning, hanya dialah yang diterima cintanya. Namun, untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Sebelum terjalin hubungan cinta yang syah sebagai suami istri, Rara Kemuning berpulang ke pangkuan Illahi. Dia meninggal dunia karena sakit. Atas permohonan dan besarnya cinta Ki Gede Weru, akhirnya Nyai Mas Ratu Ayu Rara Kemuning dimakamkan di daerah asal Ki Gede Plered alias Ki Gede Weru, yaitu di Desa Weru. Hingga kini makamnya masih terawat rapih dan sangat dihormati oleh semua masyarakat Desa Weru. Diceritakan pula, sebelum Ki Gede Weru dipanggil ke rahmatulloh, dirinya sempat menikah dan mempunyai seorang putra yang bernama Pangeran Anom Weru. Ki Gede weru sendiri dimakamkan di areal pekuburan para Ki Gede lainnya, yaitu di Gunung Sembung, tak jauh dari makam Sunan Gunung Jati.
Selepas kemangkatan ayahandanya, Pangeran Anom Weru akhirnya menggantikan kedudukan Ki Gede Weru menjadi panggeden atau pengayom rakyat Plered. Sang Pangeran juga rupanya tahu tentang kisah perjalanan cinta ayahandanya yang sangat mencintai Nyai Mas Ratu Ayu Rara Kemuning. Konon karena itulah, sebelum meninggal dunia, Pangeran Anom Weru berpesan pada seluruh rakyat Plered, dengan bunyi pesan kira-kira seperti ini, “Jikalau aku meninggal nanti, kuburkanlah aku di daerah Kaliandul”. Berkaitan dengan kisah percintaan Ki Gede Pelered dan Nyai Mas Ratu Ayu Rara Kemuning, juga dengan pesan Pangeran Anom Weru tersebut, hingga kini masyarakat tetap merawatnya sebagai adat atau tradisi yang tidak bisa dihilangkan. Kedua belah pihak, khususnya laki-laki dari Desa Weru dan perempuan dari Kaliandul tidak boleh saling mengikat cinta atau menjalin sebuah mahligai rumah tangga.

sejarah bedulan cirebon

SEJARAH DESA BEDULAN / SURANENGGALA CIREBON Sejarah Bedulan berawal pada
tahun 1556 yang saat itu
tanah bedulan masih
merupakan hutan rimba yang
tak berpenghuni dan dibawah
kekuasaan kerajaan cirebon yang saat itu kerajaan cirebon
diperintah oleh Sunan gunung
jati atau yang bergelar Syehk
Syarif Hidayatullah dan pada
saat itu kerajaan cirebon
merupakan kerajaan islam pertama di jawa barat
sehingga cirebon membina
hubungan diplomatic dengan
demak yang saat itu
merupakan kerajaan islam
terbesar di tanah jawa. Adanya keterkaitan Sejarah
antara babad bedulan dengan
astana gunung jati
Sehubungan dengan di
rebutnya wilaya Jakarta atau
saat itu yang bernama sundakelapa oleh portugis
pada tahun 1561 Masehi maka
kerajaan demak yang saat itu
diperintah oleh raden patah
sangat kawatir dengan
portugis sehingga kerajaan demak memerintahkan
seorang panglimanya yang
bernama patahillah dengan
sekitar 30,000 tentaranya
untuk mengusir portugis dari
sundah kelapa yang saat itu dirubah namanya oleh
portugis Menjadi Repoblik
Batav atau yang lebih dikenal
dengan nama Batavia. Sehubungan dengan itu maka
kesempatan itu tidak
dilewatkan oleh pihak cirebon
untuk membantu pihak
demak yang ingin menyerang
sunda kelapa karena pihak Cirebon pun merasa terancam
dengan adanya portugis di
sunda kelapa saat itu sehingga
pada tahun 1562 pihak
kerajaan cirebon mengutus
seorang panglima wanita yang bernama Nyi,Mas
Baduran untuk menyiapkan
sebuah tempat yang akan di
gunakan sebagai
persinggahan sementara
pasukan demak yang akan menyerang Batavia,Sehingga
diutuslah Nyi,Mas Baduran
untuk menyiapkan tempat
persinggahan tersebut dan
dengan seizin dari Mbah Kuwu
Cirebon atau pangeran Walang Sungsang bahwa Nyi,Mas
Baduran di persilahkan
menebang hutan yang tak
bertuan yang terletak di
sebelah utara pelabuhan
muara jati atau yang sekarang Wilayah celangcang
dan sebelum berangkat
Nyi,Mas Baduran di bekali
jimat oleh Mbah Kuwu
Cirebon Berupa Selendang
Yang menurut mbah kuwu selendang itu Nyi,Mas Baduran
akan sangat berguna dalam
melaksanakan tugasnya
untuk membuka lahan hutan
tersebut. Sesampainya di wilayah
hutan sebelah utara pelabuhan
Muara jati Nyi,Mas Baduran
menebang pohon dan
mengumpulkan rerumputan
kering yang kemudian sampai kelelahan dan berpikirlah
Nyi,Mas Baduran seandainya ia
seorang diri menebang
pepohaonan rasanya tidak
akan sanggup untuk
menampung sejumlah pasukan demak yang sangat
banyak sehingga ia berinisiatif
untuk membakarnya dan
setelah rerumputan ilalang
yang terbakar membumbung
asapnya ke angkasa kemudian Nyi,Mas Baduran
menyabatkan selendangnya
ke bara api tersebut agar api
tersebut cepat merambat
sambil menyabatkan
selendang ia mengucap sampai dimana bara api ini terjatuh
maka tempat tersebut adalah
tanah baduran. Setelah bara padam Nyi,Mas
Baduran kemudian berkeliling
untuk memastikan batas-
batas wilayahnya dan
akhirnya bara tersebut jatuh
sampai wilayah Desa Bojong Dan batas desa bakung
sehiingga kigede bakung
merasa tersinggung dengan
Nyi,Mas Baduran yang
menurutnya telah merampas
tanahnya sehingga terjadi pertikaian atau perkelahian
antara kigede bakung dengan
Nyi,Mas Baduran di wilayah
tapal batas bakung dengan
tanah bedulan sekarang
konon katanya perkelaian itu sampai berlangsung
berminggu-minggu sampai
keduanya kehabisan tenaga
dan kesaktian sehingga
sampai pada saat kigede
bakung merasa kalah dan mundur tetaoi kemudian ada
tanaman labuhitan yang
tersangkut di kaki Nyi,Mas
Baduran sehingga terjatuh
melihat hal seperti itu kigede
bakung menghunuskan kerisnya sehingga Nyi,Mas
Baduran terluka tetapi
Nyi,Mas Baduran tidak hanya
diam sempat juga menusukan
kerisnya ke tubuh kigede
bakung sehingga ki gede bakung tewas di tempat itu
tetapi luka taklama setelah
kigede bakung meninggal
Nyi,Mas Baduran pun
menyusul tidak kuat tetapi
sebelum Nyi,Mas Baduran meninggal ia sempat berpesan
kepada anak cucu agar kelak
jangan menanam pohon labu
hitam tersebut di tanah
bedulan sehingga sampai
sekarang masyarakat bedulan tidak ada yang berani
menanamnya. Mendengar kabar Nyi,Mas
Baduran telah meninggal
pihak keraton cirebon sangat
menyayangkan hal tersebut
sehingga di utuslah putri dari
Nyi,Mas Baduran sendiri yang bernama Nyiu,Mas Pulung
Ayu dengan didampingi
pangeran jaya lelana untuk
menguburkanya secara layak
dan meneruskan tugasnya
untuk mempersiapakan sebuah padukuan sebagai
persinggahan pasukan Demak
yang akan tiba dan kemudian
dirampungkanlah tugas
Nyi,Mas Baduran oleh
pangeran jaya lelana dbersama dengan Nyi,Mas
Pulung ayu dan setelah itu nyi
mas Pulung Ayu memutuskan
untuk tinggal di daerah
baduran untuk meneruskan
dan merawat kuburan dari sang ibunya.Setelah itu pada
tahun 1563 datanglah tentara
demak yang di pimpin oleh
Fatahillah dan di seranglah
Batavia dan portugispun
dapat dikalahkan dan kemudian Repoblic batav di
ganti namanya menjadi Jaya
Karta yang artinya Kota
kemenangan dan jaya karta
sekarang dikenal dengan
nama Jakarta setelah di taklukanya Batavia pada
tahun 1563 maka banyak dari
tentara Demak yang memilih
untuk tinggal di padukuan
baduran sehingga padukuan
baduran yang sebelumya hanya tempat persinggahan
kini menjadi sebua pedukuan
yang ramai akan
penduduknya dan pada tahun
1565 baduran resmi menjadi
sebuah desa yang di kepalai oleh seorang akuwu yaitu
kuwu wertu kkemudian
pada tahun 1576 desa baduran
di naikan setatusnya menjadi
pademangan dengan seorang
demang Pangeran jaya lelana menjadi demang yang
bergelar adipati Suranenggala.
Kemudian pada tahun 1782
pihak kerajaan cirebon yang
saat itu sudah lemah
wilayahnya sedikit demi sedikit dikuasai oleh pihak
belanda atau VOC Saat itu
jendral Van hotman sebagai
ajudan dari pada Dengles
memerintahkan agar
pademangan baduran dihilangkan dan diambil alih
kekuasaanya oleh residen
Cirebon yang bermarkas di
kerucuk sekarang dan tanah
bedulan di bagi dua menjadi
karang reja dan tanah baduran dan mulai saat itu
nama baduran berganti
menjadi Bedulan
menggunakan loga belanda
dan bedulan menjadi desa
kembali kemudian pada tahun 1952 bedulan di pecah menjadi
dua bagian yaitu desa
Suranenggala kidul atau
bedulan kidul dan
Surangenggala Lor Atau
Bedulan Lor kemudian pada tahun 1982 bedulan lor
dipecah kembali menjadi dua
desa yaitu Suranenggala Lor
Dan Suranenggala dan bedulan
kidul dipecah menjadi dua
desa pula yaitu desa suranenggala kidul dan
suranenggala kulon.Dan
menurut perda no 17/02/12/
thun 2006 suranenggala
dijadikan nama kecamatan
secara resmi dan sampai sekarang Suranenggala adalah
nama desa dan kecamatan dan
nama bedulan adalah nama
dari persatuan dari desa-desa
tersebut.